Warga Minahasa Utara Ini Jadikan Limbah Sabut Kelapa Bernilai Tinggi

Bukan hanya kerajinan kembang yang dihasilkan, tetapi juga aneka suvenir dari bagian-bagian lain dari pohon kelapa.

Warga Minahasa Utara Ini Jadikan Limbah Sabut Kelapa Bernilai Tinggi
Tribun Manado
Ambro dan Dyah bersama hasil kreativitas mereka 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Merasa ‘gemas’ melihat banyak gonofu (sabut) kelapa di desanya cuma jadi limbah tak berguna, Abrosius Montotalu dan istrinya Dyah Sri Utami memutuskan untuk mengubahnya jadi kerajinan tangan cantik dan unik.

Berbekal pelatihan secukupnya saat berada di Yogyakarta, Ambro dan Dyah kemudian pulang ke kampungnya di Desa Pinenek, Jaga I, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, kemudian mulai mengubah gonofu jadi karya bernilai seni tinggi.

Tribun Manado Digital berkesempatan ngobrol dengan pasangan suami istri pemilik usaha Wale Gonofu Art and Craft ini beberapaa waktu lalu.

Awalnya usaha yang dirintis pasutri ini jauh dari apa yang sedang mereka jalani saat ini.

“Sekitar tahun 2014 usaha yang kami jalani bukanlah membuat suvenir dan karya seni lainnya berbahan gonofu. Pelatihan yang kami jalani adalah khusus untuk membuat coco mesh atau jala dari sabut kelapa atau biasa disebut gonofu,” tutur Ambro.

Kerajinan tangan dari sabut kelapa buatan Ambro-Dyah.
Kerajinan tangan dari sabut kelapa buatan Ambro-Dyah. (Tribun Manado)

Menurutnya, usaha pembuatan coco mesh untuk memenuhi pesanan sebuah perusahaan tambang ternama di Minahasa Utara, tetapi kemudian dirinya mengaku tak sanggup memenuhinya.

“Permintaan perusahaaan, coco mesh yang dibuat harus mampu menutup hingga 3 hektare lebih lahan bekas tambang yang akan direhabilitasi, tapi itu angka yang terlalu besar untuk kami penuhi. Kami terkendala alat untuk memilin jala dari gonofu, bahan, dan tentu modal yang sangat besar,” terangnya.

Ambro dan Dyah bahkan sempat membeli gonofu sisa usaha sebuah perusahaaan yang berlokasi di Bitung yang kemudian gulung tikar karena pabriknya terbakar.

“Waktu itu kami bisa membeli sisa gonofu seberat 100 kilogram yang masih ada di gudang yang tak terbakar, hanya dijual seharga Rp 300 ribu,” jelasnya.

Kerajinan tangan dari sabut kelapa buatan Ambro-Dyah.
Kerajinan tangan dari sabut kelapa buatan Ambro-Dyah. (Tribun Manado)

Meskipun sudah punya modal 100 kilogram gonofu, tetapi Ambro belum bisa memenuhi permintaan coco mesh untuk menutup 3 hektare lahan rehabilitasi bekas tambang.

Halaman
1234
Penulis: Fransiska_Noel
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved