IHSG Ada Peluang Reboud: Rupiah Bakal Stabil

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Senin (16/7), ditutup turun 0,65% ke 5.905,16. Meski demikian, asing membukukan

IHSG Ada Peluang Reboud: Rupiah Bakal Stabil
kontan
Pergerakan indeks harga saham gabungan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Senin (16/7), ditutup turun 0,65% ke 5.905,16. Meski demikian, asing membukukan pembelian bersih alias net buy Rp 75,99 miliar.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Juan Harahap menilai, IHSG terkoreksi karena investor mencerna rilis data ekspor-impor Juni lalu yang turun. "Secara teknikal, indikator stochastic membentuk pola dead cross, tanda sinyal penurunan. Candle juga membentuk hammer, tanda reversal pattern," katanya, Senin (16/7).

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menuturkan, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada rilis kinerja emiten. Secara umum tren IHSG dalam jangka pendek cenderung bullish. Tapi kini indek saham masih bergerak menguji support.

Selama rupiah stabil dan kegaduhan perang dagang mereda, IHSG akan fokus pada kinerja emiten, sehingga bargain hunting bisa berlanjut. "Tren net buy mulai terlihat," kata Aditya.

Itu sebabnya, Aditya memprediksi, Selasa (17/7), IHSG berpeluang rebound moderat dan bergerak antara support di 5.840 dan resistance level 5.950. Sedangkan Juan memperkirakan indeks masih akan melemah dan bergerak di kisaran support 5.793-5.849 dan resistance 5.958-6.012. 

Peluang Lebih Stabil

Kurs rupiah masih minim tenaga. Data surplus neraca dagang tidak banyak mendongkrak mata uang Garuda.
Senin (16/7) pukul 15.52 WIB, rupiah melemah 0,11% menjadi Rp 14.394 per dollar AS.

Kurs referensi Jisdor juga masih melemah 0,26% ke level Rp 14.396 per dollar AS.

Tapi, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail menilai, rupiah relatif menguat dibandingkan sesi siang, di mana rupiah sempat terseret ke Rp 14.416 per dollar AS. "Data neraca perdagangan menyokong rupiah, meski tidak tajam," kata Mikail, Senin (16/7).

Menurut dia, penguatan rupiah terbatas lantaran pasar masih diselimuti ketidakpastian perang dagang antara AS dan China. Selain itu, rupiah masih tertekan, karena aksi profit taking di pasar saham dan obligasi dalam negeri masih terjadi.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help