Keadaan Vikariat Apostolik Manado Zaman Jepang dan Sesudahnya

Selama pendudukan Jepang tahun 1942-1945, para misionaris Belanda dan Jerman ditawan di dalam penjara.

Keadaan Vikariat Apostolik Manado Zaman Jepang dan Sesudahnya
Ist
Pastor Sujoko Pimpin Misa 

Laporan Wartawan Tribun Manado, David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pastor Albertus Sujoko, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STF-SP) mengatakan selama pendudukan Jepang tahun 1942-1945, para misionaris Belanda dan Jerman ditawan di dalam penjara. Mereka tidak bisa lagi melayani umat.

"Namun, umat tetap bertahan dalam iman Katolik tanpa kehadiran imam. Pada tanggal 24 Februari 1944 Pastor Simon Lengkong dan Wens Lengkong tiba di Manado setelah mereka ditahbiskan imam di Yogyakarta. Mereka berdua giat melayani umat, namun tidak sekalipun mereka mengunjungi tawanan karena dilarang oleh pemerintah Jepang bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan musuh," katanya.

Ia mengatakan pada tanggal 3 Desember 1944 tibalah pastor dari Jepang yaitu Pastor P. Nakagawa. Pastor Nakagawa sungguh seorang pastor yang istimewa dengan cinta kasih yang besar dan sikap yang ramah melayani umat.

"Tanggal 15 Agustus 1945 diumumkan oleh komandan besar Jepang kepada para tawanan "Tuan-tuan, anda semua sekarang bebas dan anda boleh pergi ke mana saja anda mau; perang telah selesai dan kami sudah kalah." Maka dengan segera Pastor Nakagawa masuk ke dalam kamp tawanan dan membantu mengurus segala sesuatu supaya para pastor dapat keluar dari ruang tahanan dan bertemu kembali dengan umat tercinta," ujarnya

Ia mengatakan pada tanggal 1 Desember 1945, Sonder ditetapkan sebagai tempat tinggal seorang imam dan diangkat P. G. Van de Hurk, sebagai pastor yang menetap di sana. Mgr. Panis merasa tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya, beliau pulang ke Belanda dan minta berhenti dari jabatannya sebagai Vicaris Apostolik Manado. Sebagai pengantinya adalah Mgr. N. Verhoeven yang telah diangkat di Roma pada tanggak 13 Maret 1947 dan ditahbiskan sebagai uskup di Oisterwijk, Belanda , pada tanggal 15 Mei 1947 dan tiba di Manado pada 26 Desember 1947 bersama dengan sekretarisnya Pastor Dr. Theodorus Moors.

"Mgr. N. Verhoeven menjadi Uskup Manado dari tanggal 12 Maret 1947 sampai dengan 26 Juni 1969, yaitu ketika penggantinya, Mgr. Th. Moors diangkat menjadi Uskup Manado. Mgr. N. Verhouven menjadi Uskup Manado selama 22 tahun," katanya

Ia mengatakan pada tahun 1947, daerah Kokoleh diterima ke dalam Gereja Katolik dengan baptisan kurang lebih 500 orang dan pada tahun 1950 dengan bantuan umat, dibangun Gereja dan pastoran.

Pada tanggal 3 Oktober 1949 Uskup Verhoeven mendirikan tiga quasi paroki yaitu Manado, Tomohon dan Woloan. Sementara itu Kotamobagu juga dijadikan tempat tinggal tetap seorang imam yang mengunjungi daerah-daerah sekitarnya.

"Pada tahun 1960an ada pastor yang menetap di Gorontalo dan P. H. Geurts yang meskipun tidak muda lagi, namun dengan semangat MSC berlayar ke sana dengan kapal motor Paulus dan pada tanggal 1 Desember 1961, Palu juga menjadi tempat kedudukan tetap seorang pastor dan sebagai pastor pertama yang menetap di sana adalah P. H. Bangkut MSC. Wilayah kerjanya sangat luas sekali sehingga diperlukan pelbagai sarana transportasi seperti mobil, kuda dan jalan kaki," ujarnya.

Penulis: David_Manewus
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help