FINA World Cup Rusia 2018

Deschamps Mengejar Sejarah

Eric Cantona pernah menyebutnya sebagai 'water carrier'. Awalnya, Cantona dianggap mengejek atau melempar perang urat saraf

Deschamps Mengejar Sejarah
Boladport.com
Pemain Prancis rayakan gol 

Laporan Wartawan Tribun Deodatus Pradipto dari Saint Petersburg

TRIBUNMANADO.CO.ID - Eric Cantona pernah menyebutnya sebagai 'water carrier'. Awalnya, Cantona dianggap mengejek atau melempar perang urat saraf ketika memberi label demikian kepada Didier Deschamps. Padahal tidak demikian. Cantona justru memberikan pujian sekaligus penggambaran akurat akan kelebihan kompatriotnya itu.

Istilah 'water carrier' jika diartikan ke bahasa Indonesia memang identik dengan kekokohan dan kekuatan fisik: 'gelandang pengangkut air'. Namun, arti sesungguhnya tidak demikian. 'Water carrier' adalah gelandang yang memberikan seluruh kemampuannya untuk tim, bukan sekadar jadi petarung.

Deschamps memang bukan gelandang dengan teknik canggih. Dia bukan Zinedine Zidane ataupun Youri Djorkaeff, para genius yang segenerasi dengannya. Namun, ia tetap penting. Sebagai pemain, dialah yang merebut bola lalu 'mengalirkannya' ke gelandang-gelandang kreatif. Dialah yang membawakan air untuk para genius semodel Zidane atau Djorkaeff.

Sebagai gelandang bertahan, Deschamps punya kejelian. Penempatan posisinya untuk menghentikan serangan lawan apik, kemampuannya merebut bola pun mumpuni. Maka, cocoklah penggambaran Cantona itu.

Kini, si pengangkut air itu sukses melangkah ke final Piala Dunia keduanya -baik sebagai pemain maupun pelatih. Kemenangan 1-0 atas Belgia di Stadion St. Petersburg, Rabu (11/7) dini hari membawa Prancis ke final Piala Dunia ketiga mereka. "Saya di sini untuk menuliskan halaman baru dalam sejarah, halaman yang paling indah," kata Deschamps seperti dilansir The Guardian.

Kemenangan atas Belgia ini semakin mengukuhkan kedudukan Prancis sebagai tim kelas atas dalam percaturan sepak bola dunia. Meski selalu tak diunggulkan di posisi paling atas dalam tiap edisi Piala Dunia, tapi mereka membuktikannya dengan hasil. Hanya Les Bleus yang mampu mencapai babak final sebanyak tiga kali dalam dua dekade terakhir.

Dari capaian tersebut, sekali tim Ayam Jantan menjadi juara (1998) dan sekali runner-up (2006). Kini, Hugo Lloris dkk. tengah menunggu siapa lawan mereka di partai puncak, antara Inggris atau Kroasia. Dua tim itu baru berlaga pada Kamis (12/7) dini hari.

Deschamps sendiri tampil sebagai pemain, dan bahkan menjadi kapten di final pertama pada tahun 1998, dengan Prancis keluar sebagai pemenangnya. Namun ketika Les Bleus tampil lagi di final pada 2006 -dan menelan kekalahan dari Italia- ia sudah pensiun dan baru menjajaki karier sebagai pelatih.

Deschamps sendiri baru mulai menangani Prancis sejak Agustus 2012. Ia ditunjuk menggantikan Laurent Blanc yang hanya mampu membawa Prancis hingga ke babak perempat final Euro 2012.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved