Cerita Kedatangan Kembali Para Misionaris Jesuit di Indonesia

Gereja Katolik Keuskupan Manado akan merayakan 150 tahun masuknya kembali Gereja Katolik di wilayah keuskupan Manado.

Cerita Kedatangan Kembali Para Misionaris Jesuit di Indonesia
IST
Romo Sujoko (tengah) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Gereja Katolik Keuskupan Manado akan merayakan 150 tahun masuknya kembali Gereja Katolik di wilayah keuskupan Manado. Tonggaknya ditandai dengan kedatangan Pastor Van De Vries atas undangan Daniel Mandagi 150 tahun lalu.

Semua tidak lepas sebenarnya dari perubahan di Eropa yang membuat Kekatolikkan bisa "masuk kembali" ke Indonesia (dulu Hindia Belanda). Sebelumnya, jejak Katolik lenyap disapu bersih oleh kehadiran VOC di Maluku pada tahun 1602. VOC melarang misi Katolik dari 1602 sampai 1799 di wilayah Hindia Belanda (Indonesia). 

Padahal, pada abad ke-16 sekitar tahun 1534, seorang imam Portugis Simon Vas melakukan penginjilan di Pulau Ternate dan Maluku dan menjadi martir.

Kemudian sekitar tahun 1546-1547 para Pastor Jesuit, termasuk di antaranya Fransiskus Xaverius dengan penuh semangat membabtis banyak orang Maluku sampai diperkirakan mencapai 150 Ribu orang Katolik saat itu.

Di wilayah Keuskupan Manado Pastor Diogo Magelhaes sudah datang membabtis pada tahun 1563.

Pastor Albertus Sujoko, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STF-SP), mengatakan kekatolikkan "kembali" ke Hindia Belanda (Indonesia) dimulai dengan kedatangan imam-imam praja Belanda. Setelah itu Serikat Jesus

"Pada tanggal 29 Januari 1859 Pater Martinus Van Den Elzen dan Johanis Babtis Palinck naik kapal di Rotterdam untuk berangkat ke Indonesia. Pater van den Elzen melepaskan jabatannya sebagai rektor di kolose Yesuit di Sittard. Di antara penduduk kota Sittard, misi Katolik di Hindia Belanda sudah cukup dikenal. Mgr. Vrancken yang semula adalah pastor kepala paroki di Kota Sittard telah diambil untuk menjadi Vicaris Apostolik di Batavia. Salah seorang dari putera Sittard adalah juga Pastor. A. C. Claessens, adalah termasuk dari para imam yang giat bekerja di Indonesia, dan menjadi Vicaris Apostolic di Batavia tahun 1847-1893," katanya

Ia mengatakan setelah berlayar hampir enam bulan lamanya baru kedua misionaris Jesuit pertama itu tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia pada tanggal 9 Juli 1859.

Mgr. Vrancken Pr dengan senang hati menyambut para misionaris pertama Jesuit yang datang dari kota Sittard yang juga pernah melayaninya sebagai pastor paroki. Ia mengutip kata Vrancken

"Saya merasa amat bahagia Serikat Yesus telah tiba di Indonesia. Anda datang pada saat yang sangat tepat. Pekerjaan kita akan bertambah banyak karena baru saja pemerintah Portugal dan Nederland menandatangani perjanjian bahwa kekuasaan Portugal terhadap seluruh pulau Flores dan sebagian dari Pulau Timor secara resmi pindah ke dalam kekuasaan Hindia Belanda. Itu berarti bahwa selanjutnya umat Katolik di Larantuka, Sikka dan Kepulauan Solor harus kita layani pula."

Romo Sujoko mengatakan Romo Kurris SJ menyatakan bahwa untuk mencari tenaga misionaris datang ke Hindia Belanda (Indonesia) maka baik Vicaris Apostolik di Batavia maupun pimpinan Gereja Katolik (para uskup) di Belanda  mengetuk pintu-pintu ordo dan kongregasi, namun semua menyatakan belum mampu menyediakan tenaga.

Penolakan itu bisa dipahami karena di Belanda sendiri selama 250 tahun Gereja Katolik ditindas sejak munculnya protestan Calvinis. Apalagi tarekat-tarekat yang baru berdiri untuk karya misi (SVD, MSC, MSF, SCY) masih baru mulai dan belum mempunyai anggota yang cukup.

Yang paling diharapkan adalah tarekat Redemptoris, namun mereka tidak berani menerima tantangan itu karena menganggap karya misi di Indonesia itu membahayakan keselamatan jiwa anggota mereka. Akhirnya mereka meminta tarekat Jesuit dan Jesuit menyanggupinya."

Kemudian selama 60 tahun berikutnya (1859-1919) imam-imam Serikat Jesus bekerja untuk Gereja Katolik di seluruh Indonesia mulai dari Kota Batavia sampai di Pulau Solor dan Larantuka, Padang, Makassar dan Manado, Maluku dan Papua. (Tribun Manado/David Manewus)

Penulis: David_Manewus
Editor: Arthur_Rompis
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help