Dengarkan Jeritan Petani Kopra

Mungkinkah Gubernur kita saat ini menjerit, mengingat harga kopra sekarang begitu ‘menyengsarakan’ para petani?

Dengarkan Jeritan Petani Kopra
Ist
Gubernur Olly Dondokambey saat bersama para petani kopra 

“Harga kelapa memang sifatnya fluktuasi, sebentar-sebentar naik begitu juga sebaliknya sebentar-sebentar turun,” kata Sugeng.

Bisa jadi tak sedikit petani yang kini berpikir untuk menyudahi bertani kopra.

Ketika keadaan sudah begitu lama tak menguntungkan mereka, pilihan itu bisa menjadi prioritas karena tak ada jalan keluar untuk mereka.

Bumi Nyiur Melambai, nama lain Sulawesi Utara, bisa saja tinggal sejarah alias kenangan ketika daerah ini tidak lagi memiliki cukup pohon kelapa atau menjadikannya sebagai komoditas utama.

Baca: Harga Kopra Merosot, Keluhan Petani Jadi Viral di Medsos, Dinas Perkebunan Beri Penjelasan

Baca: Legislator Minsel-Mitra Serukan Pemerintah Cari Solusi Masalah Harga Kopra Anjlok

Kelapa yang selama ini kita bangga-banggakan sebagai penopang dan penyokong pertanian tidak lagi demikian jika tak ada lagi petani yang mengusahakannya.

Tanda-tanda itu semakin kentara ketika para pemanjat pohon kelapa sudah berkurang. Upah panjat yang dulu murah kini semakin mahal dan dibarengi dengan penurunan harga kelapa.

Belum lagi kita menghadapi pilihan warga yang lebih senang kelapa dijadikan minuman kelapa muda.

Mereka lebih senang menjual kelapa muda Rp 3.000 hingga Rp 5.000 ketimbang menjadikannya kopra dengan ongkos di bawah Rp 1.000.

Baca: Harga Kopra Anjlok, Petani Menjerit, Apa Langkah Pemerintah?

Baca: Bupati Paruntu Perjuangkan Nasib Petani Kopra di Sulut

Perlu dukungan pemerintah dan pihak-pihak terkait agar kita masih punya petani kelapa.

Kestabilan harga paling tidak akan tetap menjamin jumlah mereka tidak berkurang drastis.

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help