KPU Sebut Partisipasi Capai 85,3 Persen di Pilkada, Liando: Masyarakat Bayar Utang Politik

Tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2018 di Sulawesi Utara menggembirakan. Sulut mencapai 85,3 persen di atas target nasional

KPU Sebut Partisipasi Capai 85,3 Persen di Pilkada, Liando: Masyarakat Bayar Utang Politik
Aliansi Masyarakat Peduli Pilkada Kabupaten Talaud melakukan unjuk rasa di Kantor KPU pada Selasa (3/7/2018) pukul 12.00 Wita. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2018 di Sulawesi Utara menggembirakan. Sulut mencapai 85,3 persen di atas target nasional 77,5 persen.

Sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT) di enam kabupaten/kota penyelenggara pilkada, ada 591.043 pemilih. Artinya ada 505.159 pemilih yang ambil bagian di pesta demokrasi.

Bahkan, Pilkada Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menempati urutan teratas mencapai 89,25 persen. Kemudian di Minahasa Tenggara. Saat melawan kotak kosong, angka partisipasi masyarakat malah melonjak hingga 87,5 persen (lihat grafis).
Selanjutnya disusul Sitaro 86,7 persen, Talaud 86,19 persen, Minahasa 81,69 persen dan Kotamobagu 80,17 persen.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut, Ardiles Mewoh mengungkapkan, hasil ini yang dicapai merupakan peran semua pihak seperti peserta pemilu, parpol, keamanan hingga masyarakat.

“Suasana kondusif, dan tentu sosialisasi dan pendidikan pemilih yang dilakukan secara masif oleh KPU,” ujar Ardiles kepada tribunmanado.co.id, Jumat (6/7/2018).

Salah satu faktor yang penting juga, kata Ardiles, adalah daftar pemilih yang berkualitas. “Daftar pemilih sudah di cegah sejak awal terjadinya kegandaan, atau orang yang sudah tidak memenuhi syarat sebagai pemilih tapi msh terdaftar. Sehingga orang yang terdaftar dalam daftar pemilih adalah orang yang memang memiliki hak untuk memilih,” ungkapnya.

Pengamat politik Sulut, Ferry Liando, menilai ada beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi pemilih. Ia merangkum dengan lima faktor.
Dosen dari FISIP Universitas Sam Ratulangi ini menyoroti money politics (politik uang). Tingkat partisipasi, menurut Ferry, dapat dipengaruhi money politics.

“Bisa saja karena faktor politik uang masih beroperasi. Pemilih datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) disebabkan karena sebagian besar calon merayu pemilih dengan sogokan. Jadi kehadiran masyarakat ke TPS sebetulnya bukan karena faktor kesenangan terhadap calon, tetapi hanya sekadar membayar utang politik,” ujar dia

Ia kemudian melihat incumbent atau petahana. Kata Ferry, petahana dapat ikut mempengaruhi tingkat partisipasi.

Hampir semua daerah di Sulut yang menggelar pilkada ada kontestan yang berasal dari incumbent. Calon incumbent kerap menggunakan kekuasaan mereka dengan memobilisasi ASN atau aparatur desa. “Mobilisasi itu ternyata cukup ampuh menggiring pemilih ke TPS,” kata dia.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help