Hanya Satu Siswa Daftar ke SDN 20: Kadis Pendidikan Segera Tutup Sekolah Gagal

Ironis! Saat sejumlah sekolah favorit kebanjiran siswa, beberapa SD, SMP dan SMA malah terancam ditutup lantaran kekurangan murid.

Hanya Satu Siswa Daftar ke SDN 20: Kadis Pendidikan Segera Tutup Sekolah Gagal
TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS
SMK Pertanian Pembangunan Negeri Kalasey. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Ironis! Saat sejumlah sekolah favorit kebanjiran siswa, beberapa SD, SMP dan SMA di Sulawesi Utara malah terancam ditutup lantaran kekurangan murid.

Spanduk kecil berukuran 4 x 2 meter berisi pemberitahuan penerimaan siswa baru terpasang di tembok SMP/SMA PGRI Malalayang, Kota Manado.
Bila saja tak ada spanduk itu, mungkin orang akan mengira bangunan itu sebuah rumah tua. Bentuknya yang kuno dibalut dinding kusam. Hanya ada satu ruangan berukuran 20 x 10 meter yang jadi tempat belajar siswa SMP dan SMA.

Ruangan itu dibagi tiga kelas. Masing-masing untuk siswa kelas 7, 8 dan 9. Siswa SMP belajar pagi. Siswa SMA siang hari.
Ketiga kelas itu dilapisi sekat. Tiap ruang kelas yang lebarnya tak lebih dari 6 meter itu diisi meja lapuk dan kursi plastik.

Perabotan kelas itu hanyalah sebuah meja lapuk dan lemari tua berisi buku-buku yang berdebu. Lantai salah satu ruangan berlubang. Nampak bagian seng berlapis seperti telah dipasang berkali-kali untuk mencegah hujan.

Saat tribunmanado.co.id berkunjung. Seorang guru tengah duduk menanti murid. Kepala SMA Sumiati Katiandagho yang duduk tak jauh dari sang guru. “Banyak sekali rayap di sini,” kata dia.

Sumiati membeberkan, siswa yang mendaftar sejauh ini baru beberapa orang. Ia sengaja pulang larut demi menanti datangnya siswa. Perkara siswa baru memang sangat penting bagi sekolah ini.

Ada 20 siswa kelas 12 yang sudah lulus hingga tersisa 50 orang lagi. “Syaratnya di bawah 60 siswa sekolah tutup,” beber dia. Kata dia, tidak mudah mencari siswa baru.

Siswa di situ umumnya adalah anak orang miskin. “Saya harus panggil mereka di rumah, yakinkan orang tua agar bisa sekolah,” kata dia.
Dikatakannya, problem utama sekolah itu adalah ruangan.
Ruangan yang ditempati adalah bekas kantor Lurah Minanga, Kecamatan Malalayang. Sang lurah berbaik hati meminjamkan ruangan itu.

“Tanahnya milik Pemprov (Sulut) sementara gedungnya milik Pemkot (Manado),” beber dia. Siswa harus berbagi tempat duduk akibat tempat duduk terbatas.
“Sebelum seng (atap) diperbaiki, ruang kelas selalu diguyur hujan,” ujar dia. Kerap kali siswa diajaknya belajar di tepi pantai yang berjalan hanya puluhan meter dari sekolah.

Mirip metode belajar pada film ‘Laskar Pelangi’. “Cara itu ampuh, banyak anak lebih bisa berkonsentrasi dengan belajar di alam,” beber dia. Sumiati sudah pensiun, namun diminta membantu sekolah itu. Berkali-kali ia pakai uang pribadi untuk membiayai sekolah.
“Saya ikhlas, demi anak anak ini, agar mereka bisa sekolah,” beber dia. Usaha keras Sumiati cukup berhasil. Suatu hari ada tentara yang datang ke sekolah itu.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help