Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang

Banyuwangi hebat, karena Banyuwangi Ethno Carnival, Gandrung Sewu, dan International Tour de Ijen terpilih di program 100 CoE WI 2018.

Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang
Basuki
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka Festival Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu, 16 Juni 2018 

Makanya, kami sekalian mengangkat kesenian tradisional Banyuwangi, yaitu seni gandrung dan angklung paglak. Waroeng Kemarang tidak tanggung-tanggung, setiap hari menghadirkan seni daerah secara live!”

Seni angklung paglak sendiri di kota berjuluk the Sunrise of Java ini boleh dibilang hampir punah. Wowok mempekerjakan tiga orang pemain angklung paglak setiap hari.

Penyajian kesenian daerah setiap hari ini bukan tanpa alasan. Wowok yang pernah sembilan tahun menjadi Special Lectuter di Politeknik Caltex Riau ini tidak ingin nasib seniman tradisi terpuruk.

“Saya rindu, seniman tradisi kita hidup bermartabat. Sejak awal saya terbuka dengan mereka. Saya tidak mau main manipulasi demi keuntungan pribadi. Hubungan harus saling menguntungkan. Tidak boleh ada yang merasa dimanfaatkan. Kami sudah seperti keluarga. Kami memiliki sanggar. Jika seniman-seniman sanggar pentas, kami sepakat. Kalau ada tamu mereka dapat fee. Tapi kalau tidak ada, kami tetap bertanggung jawab untuk menyediakan konsumsi.”

Di pondok ini setiap hari angklung paglak dimainkan. Bikin hati pendengar tenang dan damai.
Di pondok ini setiap hari angklung paglak dimainkan. Bikin hati pendengar tenang dan damai. (Basuki)

Ririt yang dipercaya menjalankan operasional warung mengakui, usahanya yang sudah solf launching enam bulan lalu semua dilakukan dengan learning by doing.

“Kami siap dan mau belajar. Setiap masukan dan saran, pasti kami perhatikan, termasuk kritik terhadap pelayan kami yang dinilai lamban,” akunya.

Ririt, alumni Jurusan Ekonomi Universitas Negeri Jember, putri seorang guru ini menambahkan, “Dari total 40 karyawan yang bekerja di Kemarang, semua berasal dari kampung sini. Jadi bisa dipahami kalau ada kekurangan karena mereka memang bukan tenaga profesional. Jika kami tetap mempekerjakan mereka, selain untuk membuka lapangan pekerjaan, kami juga bermaksud memberikan edukasi. Rasanya ada kepuasan tersendiri kalau melihat karyawan saya maju dan berkembang.”

Tidak hanya mendidik karyawan sendiri, Wowok dan Ririt pun terkadang perlu meluruskan persepsi masyarakat yang kurang tepat.

Seperti dikatakan budayawan Mochtar Lubis, salah satu ciri manusia Indonesia adalah masih percaya takhayul. Fenomena ini harus diakui memang masih subur di masyarakat kita. Misal, ketika melihat Waroeng Kemarang laris, ada saja yang bertanya:  pakai dukun mana?

Menanggapi hal ini, Wowok yang peraih gelar Master Studi Pembangungan ITB 2006 dengan predikat cum laude ini sambil bergurau menjawab, “Ada. Dukunnya Master dari ITB.”

Penulis: Basuki (basuki_cakbas@yahoo.com)

Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help