Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang

Banyuwangi hebat, karena Banyuwangi Ethno Carnival, Gandrung Sewu, dan International Tour de Ijen terpilih di program 100 CoE WI 2018.

Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang
Basuki
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka Festival Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu, 16 Juni 2018 

 LAUNCHING WAROENG KEMARANG

Seperti dikatakan Menpar Arief Yahya, untuk membuat pariwisata melambung, Banyuwangi telah memiliki 3 modal penting: atraksi, kemudahan aksesibilitas dan fasilitas penunjang pariwisata.

Amenitas Banyuwangi makin lengkap terlebih setelah Arief melaunching Waroeng Kemarang, Sabtu (16/6).

“Terimakasih dan selamat kepada Wowok dan Ririt yang telah mendukung pariwisata Banyuwangi dengan mendirikan Waroeng Kemarang,” sambut Arief.

Sebanyak 20 Gazebo menambah asyik pelanggan saat kongko di Waroeng Kemarang.
Sebanyak 20 Gazebo menambah asyik pelanggan saat kongko di Waroeng Kemarang. (Basuki)

Dua nama yang disebut Menpar Arief Yahya, yakni Wowok Meirianto dan Ririt Dwi Chryssantien tak lain merupakan pemilik Waroeng Kemarang yang terletak di Perkebunan Kalibendo, KM. 5, Desa Tamansuruh, Kec. Glagah, Banyuwangi.

Waroeng Kemarang adalah warung rakyat yang mengusung gaya rustic. Dengan konsep ini, rumah adat Osing yang didesain semi-outdoor—ditempatkan sebagai sentral. Kemudian melengkapi warung utama, di sekitar lahan persawahan terasering berdiri tak kurang 20 gazebo.

“Kami ingin menghadirkan suasana pedesaan. Konsumen dimanjakan dengan  beragam kuliner tradisional dengan harga murah sekaligus dihibur kesenian khas Blambangan,” terang Wowok.

Di Waroeng Kemarang, Wowok dan Ririt menyajikan kuliner-kuliner khas Osing. Uniknya, meski berkelas restoran mewah, pengunjung cukup membayar secangkir kopi hanya dengan uang Rp 3.000, sego tempong Rp 5.000, dan yang paling mahal rujak soto dan pecel pitik dibanderol Rp 15.000. Harga semurah ini masih ada tambahan bonus: free wifi!

Wowok yang pernah bekerja sebagai Telecommunication Engineer Chevron San Ramon, California, USA, ini mengatakan, “Kami memang sengaja menghadirkan menu-menu tradisional Osing agar kuliner Osing makin dikenal.

Bicara soal kuliner pasti berkait erat dengan hiburan. Karena yang disajikan makanan tradisional, kami memandang, hiburan yang cocok untuk menemani juga yang berbau tradisional.

Halaman
1234
Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help