Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang

Banyuwangi hebat, karena Banyuwangi Ethno Carnival, Gandrung Sewu, dan International Tour de Ijen terpilih di program 100 CoE WI 2018.

Denyut Wisata Banyuwangi dan Kehadiran Waroeng Kemarang
Basuki
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka Festival Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu, 16 Juni 2018 

BANYUWANGI YANG TOLERAN

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir mendampingi Arief Yahya mengaminkan saran Menpar.

Bahkan, dalam kesempatan yang sama, bupati yang berhasil membawa Kota Blambangan sebagai ASEAN Clean Tourist City ini menambahkan, untuk mendukung Kota Banyuwangi sebagai destinasi wisata kelas dunia, ia juga akan fokus mempersiapkan kualitas sumber daya warganya.

Bupati yang mantan anggota DPR RI ini menceritakan bagaimana sekarang banyak pastur dan juga pendeta berkunjung menikmati keindahan Banyuwangi.

“Jika sekarang beliau-beliau berwisata ke sini, saya yakin itu karena mereka melihat bahwa Banyuwangi memang aman damai dan masyarakatnya gemar menebarkan sikap-sikap ramah dan toleran,” terangnya.

Anas sendiri dikenal sebagai pemimpin yang sangat serius dan konsekuen dalam mengedukasi warganya untuk mengembangkan sikap toleran.

Menpar Arief Yahya melaunching Waroeng Kemarang didampingi Wowok dan Ririt.
Menpar Arief Yahya melaunching Waroeng Kemarang didampingi Wowok dan Ririt. (Basuki)

Kita tentu masih ingat, tahun lalu, ketika ada sebuah Sekolah Menengah Pertama di Genteng, Banyuwangi membuat aturan mewajibkan siswi non-Muslim berjilbab, bupati yang lama berkiprah di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ini tanpa ragu langsung menggugurkan peraturan itu. 

Anas jelas tidak rela, jika masyarakat Banyuwangi yang dikenal sangat toleran dan cinta damai terpecah-pecah gara-gara peraturan yang diskriminatif.

Sejalan dengan Anas, seorang warga, Ciptaningsih Mariani, M.Pd, mengaku sangat setuju jika dikatakan sikap toleransi merupakan karakter khas masyarakat Banyuwangi yang perlu terus dipelihara dan dikembangkan.

“Di Banyuwangi, meskipun kita berbeda keyakinan, tapi kita saling menghormati. Kami setiap Lebaran pasti menyediakan waktu khusus untuk bersilaturahmi ke para tetangga. Demikian pun saat Natal, mereka ganti mengunjungi rumah kami. Pokoknya, kalau Natalan, rumah kami penuh tamu, yah mirip ketika saudara-saudara Muslim merayakan Idul Fitri,” ungkap Kepala Sekolah SDN Kampung Melayu, Banyuwangi ini dengan penuh syukur.

Halaman
1234
Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved