Rumah Adat Bolmong Miliki Sejarah Tinggi, Suhartien Sebut Warga Asing Terpikat
Rumah adat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut), masih menjadi daya tarik tersendiri, bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Rumah adat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut), masih menjadi daya tarik tersendiri, bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
Unik dan bernilai sejarah menjadi alasan wisatawan datang berkunjung ke rumah adat milik Suhartien Tegela, di Desa Kopandakan Satu, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Sulut.
Menurut Suhartien Tegela, rumah adat ini, merupakan warisan turun temurun dari keluarga.
Bentuk dan modelnya tidak ada yang berubah sejak dibangun tahun 1940 hingga sekarang.
Rumah adat berbahan kayu ini masih berdiri kokoh dan indah dipandang, sehingga dijadikan warga sebagai tempat syuting video lagu daerah dan swafoto.
Cerita Suhartien, rumah adat ini peninggalan dari kakek Imat Lobud kemudian R Doidi.
Bangunan rumah dengan gaya khas panggung itu mengunakan kualitas kayu bagus.
Proses pengambilan kayu terbilang unik, karena zaman dulu nenek moyang menebang kayu melihat bulan di langit.
Pengergajian masih mengunakan gergaji manual.
Kayu yang ditebang harus dikeringkan satu tahun, untuk mendapatkan kualitas kayu hingga tidak rapuh dan dimakan rayap.
Kemudian bisa digunakan membangun rumah.
Keunikan juga terlihat dari konstruksi rumah tidak menggunakan paku tapi hanya menggunakan kayu yang diruncingkan.
"Kayu ini sejenis kayu besi, sehingga tidak dimakan rayap, walaupun sudah turunan ke empat," ujar Suhartien.
Ia menambahkan, meski beberapa kali di cat namun kayunya tak berubah.
Rumah ini saksi sejarah zaman Permesta.