Renungan Minggu

Kerendahan Hati dan Ketaatan Membawa Kemenangan

Suatu persoalan bisa muncul karena adanya masalah komunikasi, di antaranya terjadi perbubahan karakter komunikasi.

Kerendahan Hati dan Ketaatan Membawa Kemenangan
TRIBUN MANADO/CHINTYA RANTUNG
Pdt Hesky Manus MTh 

Apakah jawaban dari perintah Tuhan ini?

Ayat 44-45 menginformasikan kepada kita bahwa “mereka nekat naik ke puncak gunung itu.”

Mereka berkeras hati melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan.

Belum sampai mereka mendaki gunung itu, orang Amalek dan Kanaan telah turun menyerang mereka.

Hasil akhirnya dapat dipastikan: Kekalahan telak.

Sekelompok orang yang telah dirasuki pengandalan diri ini tanpa mendengar firman, tercerai-berai.

Barangkali mereka berpikir, mari kita coba bertempur, siapa tahu kita menang, walaupun Tuhan tidak beserta kita daripada kembali ke padang gurun.

Pikiran seperti ini bisa disebut “berpikir pendek” dan menjurus pada fatalistik.

Pada hakikatnya peperangan mereka bukan peperangan fisik semata namun peperangan rohani, peperangan dalam diri mereka sendiri, di mana ada ketaatan di situ ada kemenangan.

Jadi kerendahan hati yang membawa ketaatan mendahului kemenangan.

Panggilannya jelas: Hidup taat kepada Tuhan. Untuk taat orang harus rendah hati.

Kerendahan hati seperti kelembutan hati, dapat disalahartikan dengan suatu kelemahan.

Lalu di manakah letak kekuatannya? Kekuatan kerendahan hati ada pada kelapangan menerima sesuatu.

Kelapangan dan keluasan yang menunjuk pada kepasrahan atas karya dan tindakan Allah.

Kerendahan hati mengandaikan kesediaan menerima apa yang baik dari Tuhan dan sesama, dan memaknainya dalam tindakan yang luhur dan mulia.

Ketaatan atau kesetiaan memang bernada heroik.

Suatu komitmen untuk melakukan sesuatu dengan konsisten dan sedia pula mengambil resiko.

Namun ketaatan yang dimaksudkan, selalu merupakan buah dari kerendahan hati.

Oleh karena itu, ketaatan jenis ini bukan bersifat buta tanpa arah.

Ketaatan yang demikian terikat pada panggilan yang jauh lebih tinggi dari diri kita yakni pada Tuhan Allah sendiri.

Demikianlah, ketaatan memang sering teruji pada saat-saat genting, penuh derita, dan menentukan.

Di dalam ketaatan-Nya kepada BapaNya, Yesus berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42).

Rasul Paulus sendiri memaknai dilema “kemanusiaan” Yesus untuk taat sampai mati dalam Filipi 2:8: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Kendati tampak penuh dilema dan kadang menggentarkan, namun suara supaya selalu setia kepada Allah dalam Yesus Kristus merupakan harga yang tidak dapat ditawar-tawar ketika kita sedia mengikut Yesus.

Jalan kesetiaan memang sempit dan penuh cadas. Ada begitu banyak hal yang tak jarang kita korbankan.

Yesus adalah Teladan Agung, hal mana kesetiaan perlu dinyatakan melalui pengorbanan dan bukan ditunjukkan semata pada kata-kata.

Karena itu marilah kita hidup dengan rendah hati, taat dan setia kepada-Nya untuk memenangkan kehidupan ini. Ketika kita taat, Allah pasti beserta kita. Amin.

(Tribunmanado.co.id/Chintya Rantung)

Penulis: Chintya Rantung
Editor: Alexander Pattyranie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved