Inilah Sejarah Stetoskop, Dibuat Agar Telinga Dokter Tak Menempel di Dada Pasien

Saat menderita sakit dan dokter memeriksa tubuh kita dengan stetoskop, sesekali pastilah pernah terpikir: bunyi apa sih yang didengar dokter?

Inilah Sejarah Stetoskop, Dibuat Agar Telinga Dokter Tak Menempel di Dada Pasien
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Saat menderita sakit dan dokter memeriksa tubuh kita dengan stetoskop, sesekali pastilah pernah terpikir: bunyi apa sih yang didengar dokter?

Kelainan di tubuh memang bisa dideteksi dari beberapa jenis bunyi yang ada di dalam tubuh (istilahnya auskultasi) terutama dari bunyi jantung dan paru-paru.

Berdasar manuskrip yang tertulis di papirus, cara ini malah sudah dilakukan sejak zaman Mesir Kuno, 17 abad Sebelum Masehi.

Bapak kedokteran, Hippocrates, juga mengguncang-guncang tubuh pasiennya (succussion) dan mendengar bunyi di dada, untuk menentukan suatu kelainan.

Sampai beberapa abad kemudian, cara Hippocrates yang hidup tahun 350 SM itu, masih diikuti para dokter.

Hingga akhirnya seorang dokter muda Prancis, Rene Theophile Hyacinthe Laennec menemukan stetoskop, tahun 1816.

Ceritanya, Laennec yang sedang memeriksa seorang gadis kecil, teringat bahwa bunyi bisa melewati ruang pada gulungan ketas.

Diambilnya 24 lembar kertas, digulung, lalu ujungnya ditempelkan di dada pasien. Sedangkan ujung yang lain didekatkan di lubang telinganya sendiri.

Aha! Bunyi jantung pasiennya terdengar jelas!

Awalnya Laennec menamai alat temuannya sederhana saja: silinder (le cylindre).

Halaman
123
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved