Harga Kopra Menurun Drastis, 'Penderitaan' Petani Kelapa Bolsel Berlanjut

Drama penderitaan petani kelapa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) masih terus berlanjut.

Harga Kopra Menurun Drastis, 'Penderitaan' Petani Kelapa Bolsel Berlanjut
TRIBUNMANADO/FELIX TENDEKEN
Pengangkut kelapa di Desa Dumagin 

Liputan Wartawan Tribun Manado, Felix Tendeken

TRIBUNMANADO.CO.ID, MOLIBAGU - Drama penderitaan petani kelapa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) masih terus berlanjut.

Pasalnya harga komoditi unggulan yang tersaji dalam bentuk kopra menukik tajam, dari Rp 7 ribu per kilo menjadi Rp 4 ribu perkilo.

Penderitaan tersebut turut dirasakan oleh Hasan dan Nurna, petani kelapa yang memiliki usaha rumah makan di Desa Sondana, Kecamatan Bolaang Uki.

"Dari Rp 10 ribu, turun menjadi Rp 7 ribu, dan turun lagi menjadi Rp 4 ribu. Ini sungguh memiriskan bagi petani kelapa," ujar Hasan, Kamis (28/6/2018).

Senada dikatakan oleh Nurna, bahwa mengolah kelapa menjadi kopra dalam kondisi harga yang dibawah standar, hanya merugikan pemilik kelapa.

"Bayangkan saja untuk bayar buruh panjat per pohon Rp 5 ribu, harian kumpul per hari Rp 90 ribu, dan paras rumput per pohon Rp 1000," ujarnya sambari menggeleng gelengan kepalannya.

Kata dia, ini memang merupakan penderitaan bagi petani kelapa, belum lagi hasil yang didapatkan harus dibagi tiga, dua untuk ongkos pekerja kelapa dan satunya untuk pemilik kebun kelapa.

"Belum lagi kalau ada utang pelanggan di tempat penjualan langsung di potong Rp 50 ribu per 100 kilonnya," ujarnya dengan nada kecewa.

Senada diungkapkan oleh Yap, petani kelapa di kecamatan yang sama bahwa kerugian tersebut benar-benar dirasakan oleh para petani 'Cocos Nucifera'.

"Padahal empat bulan lalu harganya masih Rp 7 ribu lagi-lagi turun, kami berharap pemerintah provinsi memperhatikan kondisi ini," ujarnya.

Akibatnya sejumlah petani kelapa beralih pekerjaan sementara waktu, sambari menunggu harga kelapa dari bumi nyiur melambai kembali normal.

"Sebagain kelapa kering mulai bertunas karena tidak diolah menjadi kopra," tandasnya. 

Penulis: Felix Tendeken
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved