Kisah Anak-anak tak Mampu jadi Tulang Punggung PON Layar Sulut

Sebuah perahu layar mini mengarungi arus di lautan di pinggir Pantai Malalayang Manado, Selasa (19/6/2018) siang

Kisah Anak-anak tak Mampu jadi Tulang Punggung PON Layar Sulut
TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS
Atlet layar Sulut 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah perahu layar mini mengarungi arus di lautan di pinggir Pantai Malalayang Manado, Selasa (19/6/2018) siang 

Aldo, sang nahkoda, masih berusia sembilan tahun. Tubuhnya yang kecil itu coba menyeimbangkan perahu.

Otot bekerja, otaknya juga berpikir, tentang angin dan arus.

Layar memang olahraga otak.Sesekali nampak ia terjatuh.

Namun lebih sering ia mulus mengarungi lautan.

Sengatan sinar matahari, menghitamkan kulitnya yang putih, namun tak kuasa memudarkan semangatnya yang menyala nyala.

Di pinggir pantai, sang pelatih Robert Lasut berulangkali meneriakkan instruksi.

Aldo adalah satu dari tujuh atlet layar Sulut yang dipersiapkan tampil di ajang PON tahun depan.

Menurut Robert, Aldo baru tiga bulan belajar layar.
"Tapi sudah memperlihatkan penampilan yang luar biasa, ia punya keberanian serta IQ yang tinggi, olahraga ini memang perlu IQ tinggi," beber dia.

Disebutnya, Aldo berasal dari keluarga tak mampu. Ponsel saja ia tak punya.

Halaman
123
Tags
PON
Sulut
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved