Nuruzzaman Kesal Fadli Zon Hina Kiai: Mundur dari Gerindra

Cuitan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon di Twitter menyulut amarah Nuruzzaman. Cuitan Fadli yang mengatakan Katib Aam

Nuruzzaman Kesal Fadli Zon Hina Kiai: Mundur dari Gerindra
Istimewa
Fadli Zon 

Andre juga menyatakan Nuruzzaman tak pernah aktif di Gerindra. Ia pun mengaku tak percaya jika Nuruzzaman menjabat wasekjen. "Saudara Nuruzzaman itu tidak pernah aktif di Gerindra'>Partai Gerindra ya. Beliau tidak pernah aktif, tidak punya informasi yang lengkap dan utuh soal Gerindra'>Partai Gerindra tiba-tiba dia menyebar hoax. Mulai dari pernyataan beliau Gerindra'>Partai Gerindra menjual isu SARA, itu tidak benar," ujarnya.

"Saya juga nggak yakin beliau wakil sekjen di DPP Gerindra, saya kurang tahu juga posisi pasnya apa," sambungnya.
Ia mengatakan Gerindra tak mempermasalahkan keluarnya Nuruzzaman dari partai. "Bagi kami, tidak masalah beliau mau pindah partai, tapi cara-cara beliau yang menebarkan hoax menuduh Gerindra'>Partai Gerindra menebar isu SARA itu nggak benar," ucap Andre.
Kontraproduktif

Wakil Ketua Umum DPP Gerindra'>Partai Gerindra Fadli Zon menyebut kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel dinilai kontraproduktif dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Kunjungan anggota Wantimpres ini juga bisa melanggar konstitusi dan UU Nomor 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

"Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, juga melukai rakyat Palestina. Selain itu, bisa melanggar konstitusi dan UU Nomor 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri, kata Fadli.

Fadli mengatakan dalam konstitusi Indonesia tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan. Dan Israel, berdasarkan serangkaian Resolusi yang dikeluarkan PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina.

Mulai dari Resolusi 181 tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina dan Israel, Resolusi 2253 tahun 1967 tentang upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 tentang Zionisme tahun 1975, Resolusi 4321 tahun 1988 tentang pendudukan Israel dalam peristiwa intifada, dan sejumlah resolusi lainnya baru-baru ini.

"Berdasarkan catatan statistik otoritas Palestina, sejak tahun 2000 hingga Februari 2017, sebanyak 2069 anak Palestina tewas akibat serangan Israel. Bahkan pada serangan Israel ke Yerusalem Timur dan Tepi Barat pada 2014. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan serangan tersebut mengakibatkan kematian warga sipil tertinggi sejak 1967."katanya.

Fadli menambahkan dari Laporan OCHA tahun 2014 yang berjudul, "Fragmented Lives", menyebutkan bahwa akibat okupasi Israel di Jalur Gaza, terdapat 1,8 juta warga Palestina menghadapi peningkatan permusuhan paling buruk sejak 1967 dengan lebih dari 1.500 warga sipil terbunuh, lebih dari 11.000 orang terluka dan 100.000 orang terlantar. Laporan tahun 2017 pun menunjukan situasi tak berubah. Akibat agresifitas Israel, terdapat 2.8 juta warga Palestina yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan kemanusiaan.

"Inilah yang mendasari sikap konstitusi kita. Dimana secara de facto dan de jure Indonesia tidak mengakui keberadaan Israel. Sehingga, kunjungan anggota Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain bertentangan dengan konstitusi, rentan ditafsirkan sebagai simbol pengakuan pejabat negara Indonesia secara de facto atas keberadaan Israel. Ini sangat berbahaya dan memprihatinkan. Lebih jauh, kunjungan Staquf juga kontraproduktif bagi agenda diplomasi Indonesia yang selama ini konsisten membela Palestina," katanya.

Fadli mengatakan pembelaan Staquf yang mengklaim kunjungannya dalam kapasitas pribadi, jelas tak dapat diterima. Staquf adalah penasihat Presiden dengan jabatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Posisinya setingkat menteri yang berarti juga pejabat negara.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help