Tradisi Monuntul di Bolmong Turun Temurun Sejak Dulu

Tradisi Monuntul di Kotamobagu dan Bolaang Mongondow, dijadikan simbol kerukunan antarumat beragama.

Tradisi Monuntul di Bolmong Turun Temurun Sejak Dulu
TRIBUN MANADO/MAICKEL KARUNDENG
Tradisi Monuntul di Lapangan Pontodon, Kotamobagu, Sulawesi Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Tradisi Monuntul di Kotamobagu dan Bolaang Mongondow, dijadikan simbol kerukunan antarumat beragama.

Pemerhati Budaya Mongondow Chairun Mokoginta mengatakan, Senin (11/6/2018), Monuntul berasal dari kata tuntul yang berarti alat penerangan.

"Tradisi ini biasa disebut malam pasang lampu yang dilakukan selama tiga malam berturut-turut dan akan berakhir saat malam takbir," ujar dia.

Jadi Monuntul diartikan memberi penerangan.

Monuntul dilaksanakan untuk menyambut perayaan Idul Fitri dan kemenangan atas umat muslim yang telah berpuasa selama satu bulan.

Kata Chairun, tradisi ini bisa dilihat dari dua perspektif kebudayaan dan agama.

Memang dari tuntunan agama, tradisi ini tidak ada.

Hanya saja kegiatan ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar yang dijanjikan pada satu malam di 10 terkahir Ramadan.

Chairun menjelaskan, tradisi ini masih terus dipertahankan secara turun temurun, sejak dari penyebaran agama Muslim di Bolaang Mongondow.

Tradisi Monuntul biasanya dilakukan umat muslim dalam menyambut hari kemenangan atau Idul Fitri.

Halaman
12
Penulis: Maickel_Karundeng
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved