Likuiditas Kelompok Bank Menengah Mengetat

Lampu kuning untuk kelompok bank BUKU III. Pasalnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memantau likuiditas bank

Likuiditas Kelompok Bank Menengah Mengetat
Kompas.com
Bank Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lampu kuning untuk kelompok bank BUKU III. Pasalnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memantau likuiditas bank bermodal inti di atas Rp 5 triliun ini memiliki rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) di atas pasar.

Rasio likuiditas ketat lantaran bank BUKU III mencatat pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan dana pihak ketiga (DPK). Hingga Maret 2018, kredit tumbuh 16,77% menjadi Rp 1.656,43 triliun, sedangkan DPK tumbuh 14,52% menjadi Rp 1.733,70 triliun.

Fauzi Ichsan, Kepala Eksekutif LPS mengatakan, LDR pada bank BUKU III tercatat sebesar 97,4%. "Ini lebih tinggi dari kelompok bank lainnya," kata Fauzi, Rabu (6/6).

Tercatat, kelompok BUKU I memiliki rasio LDR 78,9%, kemudian LDR bank BUKU II sebesar 78,7%, serta BUKU IV mencatat rasio LDR 88,5%. Saat ini, batas atas rasio LDR maksimal 92%.

Keterbatasan likuiditas yang terjadi pada bank BUKU III belum mengkhawatirkan. LPS mempunyai beberapa strategi agar rasio LDR tidak naik lebih tinggi.

Misalnya, bank bisa menahan laju penyaluran kredit agar tidak ada desakan kebutuhan dana. Selain itu, untuk bank asing, bisa menurunkan LDR dengan mengakses pinjaman dari pusat yang mempunyai dana relatif murah terutama dana valuta asing (valas).

Teller sebuah bank di Jakarta Selatan menghitung uang rupiah di atas dolar Amerika Serikat, Jumat (24/1/2014).
Teller sebuah bank di Jakarta Selatan menghitung uang rupiah di atas dolar Amerika Serikat, Jumat (24/1/2014). (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Opsi lain, bank menengah dapat mencari dana selain dari dana ritel, seperti penerbitan obligasi atau pinjaman antar bank.

Anika Faisal, Direktur Kepatuhan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) mengatakan, pihaknya tidak hanya mengandalkan dana pihak ketiga (DPK) sebagai sumber pendanaan. BTPN juga mempunyai alternatif non DPK untuk sumber dana.

BTPN mengaku beberapa kali melakukan pinjaman jangka panjang untuk memitigasi blended cost of fund yang lebih baik. Memang untuk pembiayaan jangka panjang memiliki miss match lebih tinggi.
Oleh karena itu, beberapa waktu lalu BTPN mencari pinjaman ke BCA. Pada semester kedua nanti, BTPN membuka peluang untuk mengambil pinjaman non DPK. (Tim Kontan)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help