Satu Alat Pemantau Aktivitas Gunung Karangetang Rusak, Warga Cemas

Satu di antara alat yakni yang di lapangan biasa digunakan untuk output-nya seismik analog sekarang tak lagi berfungsi baik.

Satu Alat Pemantau Aktivitas Gunung Karangetang Rusak, Warga Cemas
TRIBUN MANADO/JHONLY KALETUANG
Output Seismik Analog yang rusak sehingga tidak pencatatan pada aktivitas Karangetang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, SIAU - Aktivitas Gunung Api Karangetang yang ada di Kabupaten Kepuluan Sitaro, Sulawesi Utara, terus dipantau oleh petugas pengamatan gunung serta masyarakat terkait dengan perkembangannya.

Sebab, Gunung Api Karangetang masuk dalam daftar salah satu gunung teraktif di dunia.

Namun, sesuai data dari pos pemantauan gunung, salah satu alat yakni yang di lapangan biasa digunakan untuk output-nya seismik analog sekarang tak lagi berfungsi baik.

Karena tidak berfungsinya alat tersebut, ada kekhawatiran dari masyarakat yang ada di pulau Siau, jangan sampai terjadi aktivitas kegempaan, atau sampai terjadi letusan, petugas terlambat menyampaikan pada masyarakat.

"Ada rasa cemas ketika mendengar alat seismik di Arengkambing rusak, jangan sampai ketika peningkatan gejala kegempaan, atau berbagai aktivitas luput dari pantauan," kata sejumlah warga.

Sementara itu petugas pengatan Gunung Api Karangetang menegaskan, meskipun alat seismik yang ada di Arengkambing rusak, warga tidak perlu cemas, karena masih ada alat seismik sta Bebali.

"Untuk saat ini bukan asap yang menutupi Gunung Api Karangetang, melainkan kabut. Dan masih dalam status waspada," kata Didi Wahyudi, petugas pengamatan gunung api, Kamis (7/6/2018).

Lanjut dia, peralatan yang ada di Arengkambing memang masih belum jalan, karena accu-nya sudah tidak mengisi tegangan dari solar panel.

"Sebab yang membedakannya hanya pada ouput-nya, Sta Arengkambing pakai seismik analog sedangkan yang di bebali memakai seismik digital.

"Semoga tidak terjadi kerusakan juga pada sta yang ada di bebali," lanjut dia.

Sementara itu, untuk mengantisipasi jika terjadi peningkatan aktivitas dari Karangetang, pihaknya tetap merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dan wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan beraktivitas pada radius 1,5 km dari kawah aktif dan perluasan ke sektor Selatan, Tenggara, Barat dan Baratdaya sejauh 2,5 km.

"Ini dilakukan untuk mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari material hasil erupsi 2015 karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor Selatan, Tenggara, Barat dan Baratdaya," tutup dia. (Tribunmanado.co.id/Jhonly Kaletuang)

Penulis: Jhonly Kaletuang
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help