Tanggapi Kritik Fahti Hamzah, Polri: Nangkap Teroris Itu Beda

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengeritik penggerebekan Gelagang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau

Tanggapi Kritik Fahti Hamzah, Polri: Nangkap Teroris Itu Beda
(KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA)
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengeritik penggerebekan Gelagang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Riau yang melibatkan pasukan bersenjata lengkap. Namun Mabes Polri menyebut penangkapan dan penggeledahan itu terkait kasus terorisme yang mengandung risiko tinggi, bukan kriminal biasa

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, Minggu (3/6), mengatakan penangkapan kasus teror tidak sama dengan penangkapan kasus lain. Apalagi, dalam penggeledahan di Universitas Riau, tim Densus 88 mendapati bom pipa yang siap ledak.

"Rekan-rekan (wartawan) tadi lihat bomnya sudah siap. Jadi bagaimana kalau kami bawa tongkat polisi sementara bomnya sudah siap. Penangkapan dan upaya paksa dalam kasus terorisme itu ada prosedurnya. Itu saja yang saya sampaikan," ujar Irjen Pol Setyo di Mabes Polri.

Wakil Ketua DPR melalui akun Twitter mengeritik tindakan polisi. "Apa kata dunia? Kalau kampus dianggap sebagai sarang teroris bersenjata maka berakhirlah Indonesia ini. Tamat," ujar Fahri lewat akun Twitter-nya @Fahrihamzah, Sabtu.

Baca: Prof Ellen Minta Tangkal Paham Radikal: Dekan dan Dosen Unsrat Awasi Mahasiswa

Menurut Fahri, tidak sepantasnya Densus 88 masuk kampus dan menimbulkan tanda tanya publik. Sebab, ujarnya, kampus, parlemen, rumah sakit adalah area publik yang harusnya bersih dari senjata.

"Apakah ada teroris bersenjata dalam kampus? Kenapa tidak kirim intel? Kenapa tidak ditangkap di luar kampus? Apakah mereka bikin markas teroris di kantor Menwa? Kenapa senang menampakkan pasukan bersenjata dan laras panjang masuk kampus? Ini Polri atau kompeni?" ujarnya.

Sedang Ketua DPR, Bambang Soesatyo mengapresiasi penangkapan tiga terduga teroris oleh tim Densus 88 Antiteror di Gelanggang Mahasiswa FISIP, Universitas Riau (UNRI). "Ini merupakan bukti keseriusan negara dalam memberantas terorisme di tanah air," ujar pria yang akrab disapa Bamsoet melalui keterangan tertulisnya, Minggu.

Terduga teroris ditengarai menyasar gdung DPRD dan DPR. Bamsoet mengatakannya sangat mengecam rencana tersebut. Ia meyakini, kantornya menjadi target bukan karena tidak puas terhadap kinerja DPR.

"Saya yakin target gedung parlemen ditujukan bukan karena mereka tidak puas terhadap kinerja lembaga perwakilan," ucap Bamsoet. Alasannya, DPR telah menerima setiap aspirasi dari masyarakat. Jika ada ketidakpuasan, baik itu terhadap lembaga legislatif, eksekutif, atau yudikatif, masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya.

Ketua DPR Bambang Soesatyo saat ditemui di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2018).
Ketua DPR Bambang Soesatyo saat ditemui di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2018). (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

"Tindakan teror tak ubahnya tindakan pengecut yang tak beradab. Saya yakin aparat hukum bisa segera memprosesnya. Terutama dalam menelisik lebih jauh keterkaitan mereka dengan organisasi teroris lainnya, terutama jaringan internasional," kata Bamsoet.

Menurut, Bamsoet disahkannya UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme oleh DPR membuat aparat punya payung hukum yang jelas dalam menindak terorisme. Selama aparat hukum mengikuti ketentuan perundangan, kata Bamsoet, DPR akan memberikan dukungan.

"Jadikan ini sebagai pintu masuk dalam memberantas terorisme bukan hanya sampai ke akarnya, melainkan sampai ke benihnya," kata Bamsoet. Ia menyebut ditangkapnya terduga teroris di lingkungan kampus merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Kampus seharusnya menjadi sarang intelektual, tindak tanduknya untuk kepentingan bangsa dan negara. "Bukan justru malah menjadi sarang teroris yang mengancam keselamatan, keamanan, serta persatuan dan kesatuan," ucapnya.

Bamsoet mengimbau kepada generasi muda untuk menempuh pendidikan di berbagai jalur, mulai dari menengah sampai ke pendidikan tinggi, untuk membuka wawasan secara cermat dan tepat.

"Senantiasa kedepankan sikap kritis terhadap berbagai pemikiran dan ajaran baru yang masuk. Jangan mau disusupi oleh orang-orang tak bertanggungjawab yang hanya ingin memperalat untuk kepentingan sesaat mereka," imbunya. (tribunnetwork/nis)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help