Tajuk Tamu - Hermeneutika dalam Agama

Berita tentang aksi terorisme bom bunuh diri di kompleks gereja-gereja di kota Surabaya merupakan hari kelam bagi Indonesia yang mengulang sejarah

Tajuk Tamu - Hermeneutika dalam Agama
Ist
Laurenzo Geraldo Lolong  Mahasiswa Filsafat Keilahian STF-SP 

Oleh: Laurenzo Geraldo Lolong  (Mahasiswa Filsafat Keilahian STF-SP)

Bulan Mei tahun ini masih menjadi topik hangat yang sekaligus merupakan hari kelam bagi bangsa Indonesia. Sejarah kembali mencatat aksi terorisme bom bunuh diri di kompleks gereja-gereja di kota Surabaya. Berita ini sontak menjadi perbincangan dunia.

Tagar #prayforIndonesia dan #prayforSurabaya  #kamitidaktakutteroris masih muncul di daftar tagar dalam media sosial. Masyarakat Indonesia juga warga dunia mendoakan, tapi juga mempertanyakan ada apa dengan Indonesia yang di kenal sebagai negara yang menjunjung tinggi kesatuan dalam keberagaman, yang dijuluki The Land of Harmony?.

Indonesia dikenal dunia salah satunya berkat ideologinya Pancasila. Ideologi yang menyatukan seluruh perbedaan-perbedaan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara.

Ras, suku, budaya termasuk diantaranya agama. Agama menjadi pilar penting dalam hidup bangsa Indonesia, sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa ditempatkan pada urutan pertama Pancasila yang mengartikan bahwa kehidupan setiap masyarakat Indonesia tidak akan terlepas dari kehidupan beriman/berkeyakinan atau lazim disebut beragama.

Tuhan yang Maha Esa menjadi yang pertama di antara yang lain. Keyakinan ini pun disimbolkan dengan gambar bintang yang posisinya terletak di tengah yang menandakan bahwa sang Ilahi adalah pusat seluruh kehidupan warga negara Indonesia.

Dengan demikian memeluk keyakinan tertentu adalah sesuatu yang wajib bagi bangsa ini. Setidaknya ada 6 agama yang diakui di Indonesia. Maka kemungkinan terbesar adalah tidak ada orang Indonesia yang ateis/tidak ber-Tuhan.

Semuanya beragama walaupun di beberapa tempat masih memeluk kepercayaan sukuisme. Namun hal tersebut membuktikan bahwa sebelum agama masuk ke Indonesia, keyakinan/kepercayaan suku-suku telah terbentuk, kendati konsep ketuhanan mereka masih kabur.

Kepribadian pengikut dari masing-masing agama berbeda-beda, ada yang sangat tekun, ada yang biasa saja, dan ada yang malas. Lalu, tipe macam apakah yang melakukan aksi-aksi anarkisme ini?

Publik mungkin mengenal mereka dengan sebutan kaum radikal, fundamental, tapi ada juga yang menyebut  intoleran, fanatisme. Apakah semua dapat dikatakan sama? Lalu tipe manakah yang menjadi penyebab munculnya gerakan-gerakan teror tersebut?

Halaman
123
Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved