Jokowi Setuju Kopassus Turun Tangan: Pelaku Teror Mapolda Riau dari NII

Indonesia darurat terorisme! Presiden Joko Widodo menyetujui pengaktifan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan

Jokowi Setuju Kopassus Turun Tangan: Pelaku Teror Mapolda Riau dari NII
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc/18.
Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu (kiri) berdiskusi dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (tengah) dan Panglima TNI Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto ketika menghadiri pembukaan Zikir Kebangsaan dan Rakernas I Majelis Zikir Hubbul Wathon di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (21/2/2018). Rakernas I Hubbul Wathon yang dihadiri ratusan kiai dan ulama se-Indonesia tersebut mengangkat tema Memperkokoh Komitmen Islam Kebangsaan Menuju Orde Nasional. 

Nelayan Nusa Utara Ikut Awasi Kapal Mindanao

Perbatasan Nusa Utara dan Filipina diperketat untuk mencegah teroris dari Mindanao ke Indonesia.
Wilayah Kabupaten Kepualauan Sitaro, Sangihe dan Talaud yang berbatasan langsung dengan Filipina kini diawasi TNI-Polri.

Kondisi perbatasan yang dihiasi pulau-pulau sangat rawan disusupi oleh kelompok radikal. Karena negara tetangga seperti Filipina terdapat kelompok ektremis.

"Untuk peristiwa yang diduga dilakukan oleh terduga teroris, Polres Sangihe terus tingkatkan pengamanan. Seperti diaktifkan kembali siskambling yang ada di lingkungan masyarakat," ungkap Kapolres Sangihe AKBP Sudung Napitu kepada tribunmanado.co.id, Rabu (15/4/2018).

Lanjutnya, Polres terus berkordinasi dengan semua komponen, stakeholder demi keamanan dan kedamaian yang ada. "Koordinasi kita jalan terus dengan stakeholder," ujar dia.
Perwira penghubung Kodim 1301 Satal Sitaro, Mayor Chb Alex Juanda mengatakan, terkait dengan aksi teror dari kelompok radikal saat ini, pihaknya semua siaga satu sesuai perintah pimpinan.

"Teroris itu bukan agama. Jadi disosialisasikan kepada seluruh warga, sehingga tidak terpencing dan terpengaruh. Karena seperti ada adu domba. Di Sitaro ini toleransi sangat baik dan kiranya dipertahankan," ujarnya.
Lanjut dia, untuk pengamanan pulau terluar, ada anggota yang bergerak ke lokasi berpotensi disusupi oleh kelompok teroris. "Ada anggota mobile, namun kelemahan kita tidak ada tempat tinggal," katanya.

Bukan rahasia lagi, banyak ‘jalur tikus’ di perbatasan Filipina dengan Nusa Utara. Jadi perlu ekstra pengawasan serta pengamanan dari pihak TNI-Polri.
"Jalur tikus sangat banyak sekali. Itu butuh kerja keras aparat keamanan TNI-Polri untuk menjaga, serta kepedulian kita bersama, antara warga dan aparat," lanjut dia.

Lebih jauh lagi, kata dia, tidak ada salahnya para nelayan atau warga ketika melihat ada kapal yang tidak dikenal merapat untuk menanyakan keperluan serta identitas mereka. "Warga adalah bagian dari TNI-Polri, jadi tidak ada salahnya melibatkan diri," katanya.
Olehnya sangat bersyukur sampai saat ini tidak terjadi apa-apa dengan banyaknya pelabuhan kecil. "Kita akui sangat rawan, namun kita tetap bersyukur semua aman dan damai," akhirnya. (Tribun/dtc/kpc/dik/oly)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help