Tajuk Tamu - Pengaruh Bully Terhadap Pengembangan Diri

Bully sangat berpengaruh terhadap diri seseorang, hingga bisa mengakibatkan tindakan bunuh diri karena tekanan psikologis

Tajuk Tamu - Pengaruh Bully Terhadap Pengembangan Diri
Ist
Fr. Jefry Lumentut 

Oleh: Fr. Jefry Lumentut (Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng)

“SEKITAR” BULLY

Bully sangat berpengaruh terhadap diri seseorang. Tindakan bunuh diri dapat dilakukan oleh siapa saja yang mengalami hal tersebut.

Sebagai misal, seorang anak yang tidak lulus ujian, kemudian di-bully oleh teman-temannya karena hal tersebut akan mengalami tekanan secara psikologis.

Hal tersebut dapat mengganggu perkembangan diri anak. Tanpa sadar realitas ini sering terjadi di sekitar kita.

Melihat realitas yang demikian, terlintas dipikiran bahwa apa sebenarnya bullying itu? Apa dampak bullying terhadap seseorang? Siapa yang biasanya menjadi subjek dan objek bullying? Apa yang menjadi faktor penyebab tindakan tersebut? Apakah bullying memiliki dampak positif?

Bullying berarti suatu perlakuan yang menggangu, mengusik terus menerus dan juga menyusahkan. Bullying juga dilihat sebagai suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan menyudutkan, memojokkan, merendahkan orang lain (korban). Ekstrimnya bahkan sampai pada suatu tindakan kekerasan. Berkaitan dengan arti tersebut bullying berpengaruhi terhadap psikologi seseorang. Orang yang terkena bullying akan merasa terabaikan sehingga lebih banyak menarik diri dari banyak orang. Dengan demikian, bullying dapat menghambat perkembangan kepribadian seseorang.

Ada begitu banyak dampak negatif dari bullying di antaranya orang merasa tertekan sehingga mengakibatkan orang yang bersangkutan merasa cemas, kuatir, kurang percaya diri, prestasi menurun, menarik diri, stress, depresi hingga pada kematian. Semua ini dapat kita temukan dari korban-korban bully.

Berhubungan dengan itu siapa yang biasanya melakukan bullying? Siapa saja memiliki potensi untuk melakukan tindakan tersebut. Tetapi biasanya tindakan tersebut terjadi dimana seseorang merasa memiliki power. Dalam konteks ini, power merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk mengikuti apa yang diinginkan dan diperintahkan pihak tertentu.  Dengan adanya power, seseorang atau sekelompok orang akan merasa lebih dari pada orang lain. Hal itu membuat kecenderungan untuk bullying akan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki power. Tentunya berbanding terbalik dengan mereka yang menjadi objek bullying. Orang-orang yang menjadi objek yakni mereka yang dianggap lemah dalam sebuah kelompok tertentu.

Berdasarkan hukum sebab-akibat dapat dilihat bahwa segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dengan demikian, ada pula faktor-faktor penyebab bullying. Pertama,  pribadi. Seseorang cenderung melakukan bully karena dirinya sendiri. Maksudnya, motivasi untuk melakukan bully berasal dari keinginannya sendiri. Kedua, keluarga. Keluarga memiliki peran yang khas dalam membentuk diri seseorang. Hal tersebut terjadi karena semua orang  berasal, tumbuh dan berkembang pada awalnya dari keluarga. Dari hal-hal itu jika orang tua atau anggota keluarga yang lain mengajarkan atau mencontohkan tindakan tersebut maka anggota keluarga yang lain perlahan-lahan akan terpengaruh dengan hal tersebut. Ketiga, lingkungan. Lingkungan memberikan juga pengaruh yang sangat kuat kepada seseorang. Orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang memiliki kebiasaan bullying perlahan- lahan akan terpengaruh dengan kebiasaan tersebut sehingga yang bersangkutan akan cenderung bersikap demikian. Keempat, sekolah. Tak bisa dihindari, sekolah dapat mempengaruhi seseorang. Di sekolah banyak pengaruh baik yang akan diperoleh tapi juga tidak menutup kemungkinan ada hal-hal yang kurang baik yang diperoleh.  Hal yang kurang baik bisa dari guru-guru yang memberikan pengajaran dan juga dari setiap anak didik yang lainnya.

Terlepas dari itu semua, apakah bullying tidak memiliki dampak positif? Jawabannya yakni tindakan tersebut memiliki dampak positif. Bagaimana itu terjadi? Berdasarkan sharing dari beberapa orang, pengaruh positif bullying tidak langsung terlihat tetapi perlu diolah. Objek bullying (korban) yang mampu mengolah bullying yang dilakukan oleh orang lain akan menjadikan tindakan tersebut sebagai motivasi diri untuk semakin mengembangkan diri. Misalnya, seorang anak yang dijauhi karena orang tuanya miskin. Orang yang mampu mengolah pengasingan tersebut dapat menjadikannya sebagai dorongan untuk tekun belajar dan berusaha terus menerus sampai menjadi orang sukses. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa dampaok positif dari bullying berkaitan erat dengan motivasi diri. Dengan demikian, bullying memiliki dampak positif terhadap diri seseorang

Dengan demikian, meskipun bullying memiliki dampak positif terhadap korban, sikap ini bukanlah sesuatu yang pantas untuk dilakukan, mengingat dampak kurang baik dari tindakkan ini. Hal ini merupakan sesuatu yang cenderung terjadi disekitar kita dan sering kali kita tidak menyadari realitas ini. Sekiranya sedikit penjelasan dari begitu banyak hal tentang bully membantu kita dalam bersikap.

Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved