Sempat Buat Heboh, Ternyata Ini Isi Tas Mencurigakan di Trotoar Bahu Manado

Selanjutnya masih dalam rangkaian prosedur untuk pengamanan dalam radius 100 meter tidak boleh ada siapapun yang mendekat.

Sempat Buat Heboh, Ternyata Ini Isi Tas Mencurigakan di Trotoar Bahu Manado
TRIBUNMANADO/HANDHIKA DAWANGI
Polisi melakukan evakuasi tas misterius di Pertigaan Patung 

Data yang sama menunjukan peningkatan paham konservatif keagamaan.

Diketahui, 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam.

Data tersebut seakan memberitahukan bahwa radikalisme sungguh sangat mengkhawatirkan bagi bangsa ini minimal karena beberapa alasan berikut ini.

Pertama, radikalisme justru menusuk jantung pertahanan bangsa ini ketika bisa menembus dinding generasi muda.

Kedua, paham radikalisme sudah mengganggu aspek pencerahan saat memengaruhi manusia rasional.

Sebab, paham ini telah dipelajari tidak saja secara ilmiah tetapi bahkan menjadi alat destruktif untuk menghancurkan keutuhan bangsa.

Keterlibatan seorang pemuda lulusan salah satu PTN yang terlibat dalam teror di Jakarta beberapa waktu lalu menjadi fakta krusial di sana.

Ketiga, ketika radikalisme masuk melalui pintu agama, emosi batiniah akan menggelora.

Ini amat berbahaya sebab yang diganggu ialah sisi internal manusia rasional.

Di titik ini, pemikiran kaum post-sekularisme mendapat pembenaran.

Bahwa beberapa elemen individu dan lembaga yang selama ini disingkirkan karena kerja modernitas dan kapitalisme seakan bangkit berdiri membela lembaganya itu.

Itulah alasan mengapa semua pihak di negara ini diminta bergandengan tangan menahan laju perkembangan paham radikal.

Di alur logika yang sama, ketika mahasiswa terpapar paham radikal, usaha semua pihak agar radikalisme terkapar, wajib dan amat urgen.

Gejala Post-Sekularisme

Berkaitan dengan maraknya pesebaran paham radikal di Indonesia, Madung (2017) mengajukan tesis yang sungguh menarik.

Realitas bangkitnya agama dan ditariknya agama masuk ke kanal sosial dan politik disebut sebagai fenomena postsekularisasi.

Dalam Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi, Madung menjelaskan postsekularisme merupakan fenomena kritik atas gerakan sekularisasi. Postsekluarisme sebagai sebuah fenomena sosial yang lahir untuk melakukan kritik atas implikasi bangkitnya sekularisasi.

Menurut Madung, selama ini, modernitas sering dituduh sebagai entitas yang kuat membawa agama ke ruang sempit.

Agama akhirnya menjadi tidak menunjukan muka dan batang hidungnya di publik. Agama disingkirkan ke arena privat.

Dalam perjalanan, beragam konflik politik menuntut banyak orang dari Asia, Afrika dan Timur Tengah mengungsi ke Eropa.

Masyarakat Eropa yang telah lama meninggalkan atau menempatkan agama di jalur privat mau tidak mau harus menerima banyak sekali pengungsi tersebut.

Di diaspora, pengungsi ternyata membawa serta ornamen agama dan masih mengikuti ritual keagamaan dari daerah asalnya.

Masyarakat Eropa akhirnya kembali ke ruang agama karena harus menerima pengungsi yang masih bergelut dan terus berkutat dengan agama karena berbagai alasan.

Masyarakat Eropa diajarkan bahwa negara dan politik sulit dan tidak bisa dipercaya lagi dalam menyelesaikan banyak persoalan di masyarakat.

Beragam persoalan disinyalir diproduksi oleh rezim modernitas dalam langggam sekularisme.

Karena itu, menurut Madung, postsekularisme adalah antitesis atas fenomena masyarakat sekular dalam pengertian empiris dan normatif.

Di aspek empiris, postsekularisme diarahkan untuk kembali menempatkan agama ke ruang publik guna menyelesaikan masalah publik. Selanjutnya, di aspek normatif, postsekularisme adalah ruang di mana agama bisa kembali mempromosikan nilai etis dalam praktik hidup bermasyarakat.

Salah praktik

Fakta empiris dan normatif seperti digambarkan Madung di atas hemat saya bisa menjelaskan konteks sosial dan politik berkembangnya paham radikal di Indonesia saat ini.

Realitas empiris dan normatif bisa dijadikan pisau untuk menentukan posisi agama dan generasi muda dalam perang melawan radikalisme.

Gugatannya ialah bagaimana menjelaskan banyaknya generasi muda yang masuk ke kubangan paham radikal?

Apakah lembaga agama masih bisa dianggap sebagai lembaga penjaga dan pengawal moral dan etika?

Gugatan seperti ini laik diajukan karena posisi mahasiswa dan agama dalam hubungannya dengan aktor dan konteks radikalisme.

Saya tidak sedang menuduh bahwa radikalisme muncul karena proses pembiaran oleh agama sebagai lembaga sosial.

Yang ingin dikatakan adalah bahwa setiap agama jelas mengajarkan kebaikan dan keselamatan manusia. Humanisme adalah nilai yang sama dalam satu irisan besar ajaran agama.

Masalahnya, paham radikalisme justeru ditanam lalu dikembangkan oleh generasi muda; kaum yang dianggap sebagai agen perubahan, agen pembangunan dan agen kontrol sosial.

Pendidikan inklusif

Selain nilai-nilai humanisme yang terdapat dalam agama, masih ada nilai lain yang berkembang di masyarakat dunia dan Indonesia saat ini.

Persaudaraan, kemanusiaan dan kebebasan merupakan nilai-nilai lain yang turut berkembang bersama dengan nilai etis dan moral.

Mengapa nilai-nilai tersebut tidak dipakai untuk proses pemberantasan beragam gerakan radikalisme? Negara harus disebut di sana.

Lembaga pendidikan wajib diberdayakan.

Dalam logika demikian, kita semua setuju dengan langkah pemerintah, polisi dan aparat keamanan yang meminta lembaga agama untuk turut berperan dalam mengurangi bahkan menghilangkan paham radikalisme itu.

Hemat saya, soal besar kita selama ini, proses penyelesaian masalah radikalisme dan terorisme hanya terpaku pada metode legal formal.

Pendekatan seperti itu benar adanya.

Hanya, pendekatan demikian lebih berfokus pada usaha kuratif.

Usaha kuratif hanya bermuara pada hasil dari beragam gerakan radikal.

Yang masih minim dilakukan adalah proses pencegahan dengan melibatkan semua lembaga sosial di Indonesia termasuk agama.

Yang masih kurang adalah penanaman nilai inklusivitas dalam pendidikan kita sejak dini. *

Penulis: Handhika Dawangi
Editor: Valdy Suak
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help