Pilpres 2019

Sebastian Salang: Strategi Tarik Ulur PKB Tinggal Dua Bulan, PKB Bisa Hanya Jadi Pelengkap

Pengamat politik Sebastian Salang melihat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sedang memainkan strategi meningkatkan daya tawar

Sebastian Salang: Strategi Tarik Ulur PKB Tinggal Dua Bulan, PKB Bisa Hanya Jadi Pelengkap
tribunnews
Sebastian Salang 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pengamat politik Sebastian Salang melihat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sedang memainkan strategi meningkatkan daya tawar jelang Pemilihan Presiden 2019.
Sehingga, hingga kini PKB masih belum memberikan dukungannya baik kepada Joko Widodo maupun Prabowo Subianto.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dan sejumlah pengurus GP Ansor, di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (31/1/2018).
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dan sejumlah pengurus GP Ansor, di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (31/1/2018). (Dok. PKB)

"Pilihan seperti ini menurut saya merupakan sebuah strategi. Tujuannya untuk menaikan posisi tawar," ujar Sebastian Salang kepada Tribunnews.com, Jumat (4/5/2018).

Entah posisi tawar agar Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar menjadi calon wakil maupun tawaran lainnya.

Hal seperti ini menurutnya lazim dalam politik dan biasa dimainkan partai Politik.
Soal hasilnya positif atau negatif akan dilihat menjelang pencalonan nanti. Dia melihat waktu untuk memainkan strategi tarik ulur ini tinggal dua bulan ke depan.

Hasil yang paling maksimal adalah menjadi wakil presiden. Meski peluang itu kecil.

Namun target maksimal PKB itu menurutnya, baik di kubu Jokowi maupun Prabowo rasanya sulit mendapat target tersebut. "Peluangnya mungkin di poros baru tapi juga tidak mudah," jelasnya.

Jika peta politik tidak berubah banyak sampai pencalonan, strategi PKB ini kata dia, bisa blunder.
"Sebab PKB hanya akan menjadi pelengkap saja. Karena itu kita tunggu perkembangan politik beberapa hari kedepan," ucapnya.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy menyebut, hanya menunggu waktu sampai PKB masuk ke koalisi pengusung Jokowi dalam Pilpres 2019.

Meskipun dalam perkembangannya, PKB memberi syarat digandengnya Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

"PKB cuma tunggu waktu saja, mereka sudah bikin deklarasi JOIN (Jokowi-Imin), toh PKB saat ini ada di (kabinet) Pak Jokowi,” katanya di Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (4/5/2018).
Anggota Komisi XI DPR-RI itu mengungkapkan, PKB akan berhitung banyak jika tidak mengusung Jokowi.
Sebab, ada empat menteri dari PKB yang masuk dalam kabinet.

"Kalau tidak mendukung, Agustus mereka akan kehilangan empat menteri. Rasanya agak berat untuk PKB menghadapi Pilpres 2019 tanpa empat kementerian di dalamnya,” ujarnya.
Selain PKB, sambung Romi, ada dua partai yang kemungkinan bergabung ke dalam gerbong Jokowi.
Keduanya yakni Demokrat dan PAN.

Jika koalisi besar ini terwujud, maka mereka akan bergabung dengan lima partai (PDI-P, Golkar, PPP, Hanura, dan Nasdem) yang telah lebih dulu mendeklarasikan dukungan.
"Sehingga total delapan partai politik yang ada di parlemen. Mungkin hanya menyisakan Gerindra dan PKS. Itu harapan kami,” katanya.

Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help