Pilpres 2019

PSI Jelaskan Substansi Pidato Racun Kalajengking Jokowi, Sebut Fadli Zon Ngawur

Juru Bicara PSI bidang Kepemudaan, Dedek Prayudi menganggap Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon telah gagal paham

PSI Jelaskan Substansi Pidato Racun Kalajengking Jokowi, Sebut Fadli Zon Ngawur
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon melaporkan sejumlah akun di media sosial karena menyebarkan hoaks ke Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (2/3/2018). 

 Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Juru Bicara PSI bidang Kepemudaan, Dedek Prayudi atau yang akrab disapa Uki menganggap Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon telah gagal paham menanggapi pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal Racun Kalajengking pada Musrenbangnas dalam RKP 2019.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR Fadli Zon saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (2/3/2018).
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR Fadli Zon saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (2/3/2018). (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

"Oposisi zaman now kadang gagal melihat secara substantif ucapan dan keputusan Presiden serta cenderung tergesa-gesa ingin mengomentari, sehingga terkesan ‘ngawur’. Tapi sah-sah saja biar publik yang menilai," kata Uki dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/4/2018).

Menurut Uki, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan Fadli Zon sebelum mengomentari pernyataan Presiden.

"Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan pak Fadli sebelum merespon pidato pak Jokowi, yakni konteks pidato dan substansi pidato. Tanpa pemahaman dua itu, justru respon pak Fadli yang terkesan garbage in garbage out," kata Uki.

Uki menjelaskan bahwa secara substansi, dengan menyebut kalajengking sebagai komoditas yang paling mahal, pidato Presiden tersebut mengajak para Kepala Daerah agar tidak menyia-nyiakan waktu, sebuah komoditas yang paling mahal.

"Mari kita lihat secara utuh pidato bagian kalajengking tersebut. Beliau mengatakan bahwa ada yang lebih mahal daripada komoditas termahal sekalipun, yaitu waktu. Sedangkan racun kalajengking disini digunakan sebagai contoh komoditas yang mahal tersebut," terang Uki.

Uki menambahkan bahwa melalui pidatonya, Presiden menginginkan cara kerja yang cepat.
"Buang-buang waktu yang dimaksud presiden adalah cara kerja yang bertele-tele dan rantai birokrasi yang berbelit-belit, sedangkan tantangan zaman menuntut kita untuk bergerak sangat cepat," sambung Uki.

Uki menganggap bahwa kemajuan jaman yang tak dapat dihindari oleh Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri.

"Dalam konteks sebuah bangsa besar yang tidak dapat dipisahkan dari kemajuan global, Indonesia harus mampu berkompetisi dengan waktu. Revolusi 4.0 yang disebutkan oleh Presiden Joko Widodo hanyalah sebuah contoh dari banyaknya indikasi perubahan jaman yang begitu cepat. Kami menyambut positif trigger dari Presiden untuk segera berlari kencang dan tidak terjebak dalam rutinitas dan perdebatan tidak perlu," papar Uki.

Menariknya, Uki juga menangkap kesan bahwa Presiden sedang melemparkan sindiran menghindari korupsi melalui ucapannya tentang komoditas racun kalajengking.

"Dalam pidato tersebut, Presiden juga mengatakan kepada Kepala Daerah, kalau mau kaya silakan ternak kalajengking. Saya menangkap sinyal bahwa Presiden sedang mengingatkan para Kepala Daerah untuk tidak korupsi”, kata Uki.

Diketahui sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon mengomentari pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai pemberdayaan racun kalajengking untuk bisa kaya raya saat berpidato di acara Musrembang, Senin (30/4/2018) lalu.
Menurut Fadli, ucapan itu tidak layak diucapkan Presiden.

"Menurut saya ini harus diusut ya kenapa kok bisa seorang Presiden RI berbicara seperti ini. Ini menurut saya memalukan," kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (3/5/2018).

Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help