Inilah Desa Mengkang, Dahulu Tiga Bogani Menetap di Desa Ini

Tugas mereka menjaga dan melindugi serta menjadi teladan yang baik di wilayah kekuasaan.

Inilah Desa Mengkang, Dahulu Tiga Bogani Menetap di Desa Ini
TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Rumah penyimpanan benda peninggalan nenek moyang Bolaang Mongondow di Desa Mengkang, Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Sebelum kerajaan di Bolaang Mongondow terbentuk, masyarakat dipimpin oleh Bogani.

Bogani merupakan pemimpin yang dipercaya masyarakat sebelum abad 12 masehi atau tahun 1.200. Tugas mereka menjaga dan melindugi serta menjadi teladan yang baik di wilayah kekuasaan.

Satu di antaranya cerita Bogani di wilayah kekuasaan Lolayan dan sekitarnya bernama Rondongbekiki, Tarongpogayow, dan Pondadat. Ketiganya hidup dan menetap di desa Mengkang, Kecamatan Lolayan.
Ketiga berkuasanya di seluruh Lolayan. Mereka membentuk suatu stuktur pemerintahan kecil.

Rondongbekiki memimpin para Bogani bernama Tumompot, Bangiloi dan Gayuda, sedangkan Tarongpogayow memimpin Dalungmasingkang. Selanjutnya Pondadat Mokoluodan, Moropakandau dan Bangkaulu.

Para Bogani ini dipilih karena memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, kuat dalam memimpin, adil, jujur, beraklak tinggi, rela berkorban serta mencintai anggotanya. Memasuki abad 14 atau 1.400, komunitas tersebut telah membuat kerajaan yang dipimpin oleh raja atau Punu.

Menurut Tae Kungsi (68), Budayawan Desa Mengkang, Bogani yang tersisa atau tinggal lama di Desa Mengkang adalah Mokoluodan, sehingga membuat patung di sini.

"Kami membuat patung, karena sejarah bahwa mereka pertama kali membuka daerah Lolayan termasuk Mengkang," ujar Tae Kungsi, Rabu (2/5).

Kata dia, beberapa peninggalan alam yang ditinggalkan seperti pohon besar di hutan berumur ratusan tahun, konon ditanam oleh para Bogani serta beberapa tanda di batu.

Sangadi Desa Mengkang, Marsidik Kadengkang mengatakan, warga Desa Mengkang menjaga adat dan budaya, sehingga membuat rumah adat.

Berbagai peninggalan nenek moyang diletakan di rumah ini, termasuk barang bogani seperti tombak serta patung Mokoluodan.

"Rumah ini dibangun hanya untuk mengumpulkan sejarah, agar anak cucu bisa tahu sejarah Bolaang Mongondow," ujar Marsidik. (ven)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help