Dua Pemuda Sonder Ditembak Polisi: Ibu Jonly dan Erwin Terus Menangis

Kabar tewasnya Erwin Oroh (26) dan Jonly Alvin Wowor (27) menghebohkan warga Desa Sendangan, Kecamatan Sonder

Dua Pemuda Sonder Ditembak Polisi: Ibu Jonly dan Erwin Terus Menangis
tribun manado
Warga Sendangan, Sonder gotong royong bangun tenda di depan rumah duka, Senin (30/4/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kabar tewasnya Erwin Oroh (26) dan Jonly Alvin Wowor (27) menghebohkan warga Desa Sendangan, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa. Kedua pemuda Sendangan ini dan sepupu mereka Michael Ramon Rimbing (30) yang domisili di Jalan Chairil Anwar, Wua-Wua, Kendari ditembak mati petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Selatan dan Polresta Palembang di Tanjung Api-Api, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (28/4/2018) malam.

Keluarga dan warga Sendangan seakan tak percaya nasib ketiganya berakhir tragis. Menurut polisi, ketiga tersangka bandar dan kurir narkoba jenis sabu seberat 5,1 kilogram ditembak lantaran mencoba melawan saat akan ditangkap.

Erwin dan Jonly yang domisi di Jaga III itu dikenal sebagai pemuda yang baik dan rajin di kampung.
Hukum Tua Sendangan Edward Rampi melalui Kepala Jaga III Lexy Rembet mengatakan, sosok Jonly orangnya rajin karena bermasyarakat di Desa Sendangan.

“Baru satu minggu yang lalu mereka berdua berangkat meninggalkan Desa Sendangan. Setahu kami katanya mau kerja di PLN di sana (Kendari). Anaknya baik-baik. Yang datang ambil saudara mereka sendiri,” kata Lexy kepada tribunmanado.co.id, Senin (30/4/2018).
Orangtua Erwin, Meggy Langoy dan Denny Oroh tak kuasa menahan tangis setelah mendapat informasi anak mereka sudah tiada.

Jonly dan Erwin saat menuju Kendari
Jonly dan Erwin saat menuju Kendari (istimewa)

Meggy terlihat sangat terpukul atas musibah tersebut. Wajahnya kelihatan pucat saat bersua dengan tribunmanado.co.id. Sementara sang ayah dalam keadaan sakit stroke juga tak percaya atas musibah itu.
Begitu juga orangtua Jonly, Itje Lolowang. Ia terus menangis, seakan tak percaya dengan kejadian yang menimpa anak bungsunya itu. “Oh kasihan, oh kasihan. Kenapa begini,” kata Itje lalu menangis. Keluarga berharap agar jenasah anak mereka dipulangkan ke Sendangan.

Pantauan tribunmanado.co.id, warga Sendangan bergotong-royong mendirikan bangsal (tenda) di depan rumah Erwin dan Jonly di Jaga III. Mereka mengangkat bambu untuk dibangun tenda.
Warga setempat seakan tak percaya mendengar informasi penembakan itu. Kakak kandung Jonly, Robert Wowor mengaku tak sangka adiknya akan mengalami kejadian seperti itu.

“Kami keluarga syok dengan kejadian ini. Adik saya orangnya baik. Seminggu lalu dia berangkat ke Kendari. Setahu saya, mereka Jonly dan Erwin ke sana mau kerja di PLN,” kata Robert.
“Keluarga mengharapkan agar jenasah di pulangkan di kampung. Tidak dipersulit, minta kerja sama dengan Polda Sumatera Selatan agar pemulangan jenasah lancar,” kata dia.

Informasi yang diperoleh, ketiganya ditembak mati Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Selatan. Michael, Erwin, dan Jonly harus meregang nyawa lantaran melakukan perlawanan dan berusaha merebut senjata polisi saat akan ditangkap. Mereka terlibat aksi penyelundupan sabu 5,1 kilogram.

Kasus ini bermula saat pihak Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menangkap jaringan ketiga tersangka, yakni Nurdiansyah (27) ketika akan terbang menuju Balikpapan bersama Erwin dan Jonly.
Mereka membawa 5,1 kilogram sabu yang dibungkus dalam wadah permen dan minuman. Namun, aksi penyelundupan itu diketahui petugas ketika berada di mesin sinar-X bandara.

Merasa ada yang janggal, pihak bandara langsung memberitahukan penemuan itu ke pihak kepolisian. Erwin dan Jonly kabur begitu mengetahui aksi penyeludupan mereka gagal. Nurdiansyah tidak dapat berkutik karena lebih dulu ditahan petugas.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help