Maria Denok, Memberkati Semarang lewat Tari Rancak Kuntul

Tanggung jawab ini tidak sebatas memanjatkan doa syafaat, tapi juga melakukan aksi nyata demi kesejahteraan kota tempat tinggal

Maria Denok, Memberkati Semarang lewat Tari Rancak Kuntul
Basuki
Denok bersama para guru PAUD 

Penulis: Basuki

Pada mulanya adalah resah. Pemantik gundah tak lain sebuah ceramah. “Siapa pun kita, tidak peduli profesinya, semua memiliki tanggung jawab terhadap kotanya. Tanggung jawab ini tidak hanya sebatas untuk memanjatkan doa syafaat, tapi juga melakukan aksi nyata demi kesejahteraan kota tempat ia tinggal.”

Panah kata-kata itu menancap dalam di lubuk Maria Denok Bekti  Agustiningrum. Ia terhenyak. Merasa ada kebenaran yang terdedah, wanita kelahiran Bogor, 14 Agustus 1978 ini mulai merenung. Sebuah kaleidoskop segera terhampar. Meski sudah hampir 18 tahun menetap di Semarang, ia melihat masih terlalu sedikit karya yang ia baktikan bagi kotanya.

Denok bersama suami dan putri tercinta
Denok bersama suami dan putri tercinta (Basuki)

“Semarang sudah memberi kami terlalu banyak. Saya boleh mengais rezeki. Suami saya yang seorang pendeta, diizinkan melayani. Anak kami lahir, tumbuh dan besar di sini. Masyarakat menyambut kami dengan hangat. Kami bebas menikmati kekayaan seni, budaya dan alam yang melimpah. Kesadaran inilah yang kemudian membawa saya untuk memikirkan sesuatu yang layak untuk dipersembahkan bagi kota kami, Kota Semarang,” Denok bersoliloqui.

Untuk membuahi tekadnya, Denok yang dosen PG PAUD IKIP Veteran Semarang ini kemudian membatin. Ia tahu Tuhan tidak meminta yang muluk-muluk. Karena merasa diberi talenta menari, ia pun ingin memberkati Kota Semarang lewat sesuatu yang berkait dengan keahliannya, yakni sebuah persembahan kreasi tari anak.

Di hari ulang tahunnya yang ke-39, ide mulai dimatangkan. Denok mulai melakukan riset kecil. Ia amati burung-burung kuntul yang hinggap di enam batang pohon asem yang berdiri kokoh di Srondol, area yang berada persis di depan Markas Banteng Raiders 400 Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Selain itu, observasi dilakukan di dekat Bandara Ahmad Yani dan di daerah Rawa Pening, Ambarawa. Denok sengaja memilih burung dari keluarga ardeidae ini karena hewan ini merupakan ikon Kota Semarang.

Denok di tengah para penari Rancak Kuntul
Denok di tengah para penari Rancak Kuntul (Basuki)

Dulu, sebelum habitatnya terancam, populasi burung kuntul di Kota Lumpia ini cukup meruah. Spesies ini biasanya hinggap di pohon-pohon asem yang ada di jalan-jalan protokol. Namun, kini burung berleher dan berkaki panjang dengan bulu dominan putih ini banyak bermigrasi ke timur, selatan dan utara. Ke timur, pindah ke daerah pinggir kota, seperti di Mranggen. Ke selatan ke daerah Rawa Pening. Sementara yang ke barat ke sekitar Bandara Ahmad Yani. Dari literatur diketahui, di dunia ini hanya terdapat enam jenis kuntul. Empat dari enam jenis kuntul tersebut ada di Srondol. “Sayang kalau sampai punah. Karena itu, saya pikir merupakan langkah yang bijak jika anak-anak sejak dini dilibatkan untuk turut serta melestarikannya,” ungkapnya.

HEWAN SEBAGAI TEMA FAVORIT

Merujuk sebuah hasil penelitian, Denok yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menjelaskan, bagi anak usia dini, satwa merupakan salah satu tema favorit dalam pembelajaran. Di usia emas ini, seluruh kemampuan yang mereka miliki perlu distimulasi dengan maksimal dan tentu saja dengan cara yang benar. “Karena itu, setelah berulang-ulang melakukan pengamatan selama kurang lebih 5 bulan, saya mulai mendapatkan gambaran lengkap perilaku burung kuntul. Ada gerakan mengepakkan sayap, menggerakkan leher, dan mengangkat satu kaki yang sangat khas pada burung ini,” jelasnya.

Selesai mengeksplorasi berbagai gerak tari yang disesuaikan dengan tema, istri Pendeta Iskak Dodie Irawan ini menghubungi dosen musik di Unnes untuk meminta bantuan membuatkan musik pengiring. “Waktu minta tolong membuat iringan, saya mesyaratkan tiga kriteria. Pertama, bunyi-bunyian yang ada mesti berasal dari berbagai alat musik yang dekat dengan anak, seperti: suara tepukan, hentakan kaki, denting gelas, kotekan kayu dan semacamnya. Kedua, irama mesti cocok dengan jiwa anak, yakni dinamis, riang dan ramai. Ketiga, musik harus merepresentasikan tiga etnis yang ada di Kota Semarang, yaitu Jawa, Arab, dan Tionghoa,” tuturnya.

Denok bersama para guru PAUD
Denok bersama para guru PAUD (Basuki)
Halaman
12
Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved