Pilpres 2019

Tiga Alasan Prabowo Belum Pasti Capres, Mandat Gerindra Tak Berarti Tanpa Koalisi

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai bahwa mandat Partai Gerindra yang diberikan kepada Prabowo Subianto

Tiga Alasan Prabowo Belum Pasti Capres, Mandat Gerindra Tak Berarti Tanpa Koalisi
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Prabowo Subianto 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai bahwa mandat atau ikrar Partai Gerindra yang diberikan kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) belum bisa dijadikan faktor untuk melihat konstelasi politik di Pilpres 2019.

Menurut Yunarto, meski Gerindra telah memberikan mandat dan menyatakan dukungan, belum bisa dipastikan Prabowo untuk maju sebagai capres menghadapi Presiden Joko Widodo.

Ketum PPP Sebut Melawan Prabowo, Jokowi Akan Menang Lebih Mudah
Ketum PPP Sebut Melawan Prabowo, Jokowi Akan Menang Lebih Mudah (Youtube)

"Jadi ikrar atau sinyal yang diberikan internal Gerindra tidak serta-merta memastikan konstelasi 2019 prabowo akan maju. Kita tahu dalam fenomena pilkada atau pilpres, masa injury time itu adalah masa yang paling menentukan," ujar Yunarto saat dihubungi, Kamis (12/4/2018).

"Dan, menurut saya sebelum ada pendaftaran di KPU menurut saya belum tentu Prabowo bisa dikatakan maju," ucapnya.

Yunarto berpendapat, saat ini ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk meyakinkan Prabowo maju sebagai capres.

Untuk mengusung Prabowo, Gerindra masih membutuhkan dukungan setidaknya satu partai dalam memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden.

Namun, hingga saat ini belum ada kesepakatan untuk membentuk koalisi. Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sejak awal memberikan sinyal akan merapat ke Gerindra.
"Saya pikir itu masih jadi tanda tanya ya," kata Yunarto.
Selain itu, Prabowo dinilai juga masih terganjal dengan faktor elektabilitas.

Beberapa hasil survei menunjukkan posisi Prabowo masih stagnan dan jauh di bawah elektabilitas Jokowi.
Jika dibandingkan dengan pada masa Pilpres 2014, kata Yunarto, posisi Prabowo lebih berat. Faktor lainnya yakni terkait soal logistik.

Menurut Yunarto, selama koalisi pendukung Prabowo terbentuk, persoalan logistik belum bisa ditentukan.
Selain itu, Prabowo tercatat sudah dua kali menjadi mencalonkan diri, yaitu di Pilpres 2009 sebagai cawapres Megawati dan di Pilpres 2014 sebagai capres.

"Dan itu menurut saya, dibutuhkan kesepakatan tersendiri juga. Jadi menurut saya yang terjadi di Hambalang (Rakornas Gerindra) tidak memastikan apa pun," tuturnya.

Kesiapan Prabowo
Sebelumnya, Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya saat diberi mandat oleh partainya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Mandat tersebut diberikan Gerindra kepada Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gerindra yang berlangsung di rumahnya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/4/2018).

"Prabowo Subianto menegaskan menerima mandat tersebut dan akan segera bergerak membangun koalisi pilpres. Prabowo memerintahkan seluruh kader turun bersama rakyat. Siang dan malam berjuang dengan rakyat," kata Sekjen Gerindra Ahmad Muzani melalui keterangan tertulis, Rabu (11/4/2018).

Muzani menyatakan, sebanyak 34 ketua dewan pimpinan daerah (DPD) tingkat provinsi Partai Gerindra dan 529 ketua dewan pimpinan cabang (DPC) tingkat kabupaten menginginkan Prabowo maju sebagai capres.
Selain itu, dukungan juga datang dari 2.785 anggota DPRD kabupaten/kota dan 251 anggota DPRD tingkat provinsi, serta 73 anggota DPR asal Gerindra.

Sementara itu, dalam pidato pembukaan Rakornas, Prabowo menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai capres jika diberi mandat partainya.
Ia menyatakan, dirinya pemegang mandat seluruh kader Gerindra di Indonesia.

Penulis: Aldi_Ponge
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help