Jadi Saksi di Sidang Kasus RSJ Ratumbuysang, Darwin Justru Tak Tahu Soal Perencanaan Pembangunan

Sidang lanjutan korupsi pembangunan RSJ Prof VL Ratumbuysang 2015 di Pengadilan Negeri Manado pada Rabu (11/4/2018) tak berlangsung lama.

Jadi Saksi di Sidang Kasus RSJ Ratumbuysang, Darwin Justru Tak Tahu Soal Perencanaan Pembangunan
TRIBUNMANADO/WARSTEF ABISADA
Suasana usai sidang kasus RSJ Ratumbuysang pada Rabu (11/4/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Warstef Abisada

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -  Sidang lanjutan korupsi pembangunan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof VL Ratumbuysang 2015 di Pengadilan Negeri Manado pada Rabu (11/4/2018) tak berlangsung lama.

"Sebagai konsultan perencana pembangunan rumah sakit, saksi hanya datang menandatangani kontrak, tapi tak tahu banyak saat ditanya soal rumah sakit," kata Pingkan Gerungan, Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sidang pimpin Ketua Majelis Hakim Vincentius Banar SH MH hanya menghadirkan 1 saksi dari JPU yakni konsultan perencana pembangunan rumah sakit.

Sidang yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita selesai sekitar pukul 11.30 Wita.

Jeverson Petonengan, kuasa hukum terdakwa David Liando mengatakan, direktur perusahaan konsultan perencana pembangunan rumah sakit, mestinya banyak hal yang bisa dijelaskan oleh saksi Darwin, Direktur PT Sangkuriang.

Namun faktanya di sidang, saksi tidak tahu sama sekali soal perencanaan pembangunan rumah sakit.

"Majelis Hakim sempat menskors sidang untuk memberikan kesempatan kepada saksi menghadirkan data perencanaan pembangunan rumah sakit. Tapi, saat data sudah ada, ternyata saksi tidak mengerti dan tak bisa menjawab juga gambar yang ada meski dibuat oleh pihaknya sebagai konsultan perencana," kata Petonengan.

Petonengan menduga, sebagai direktur, saksi Darwin tak banyak menerima laporan dari Fransiska Rumagit selaku tim leader konsultan perencana. Sehingga banyak masalah yang hadir dalam perencanaan pembangunan, seperti gambar rumah sakit yang tak dilegalisasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulut, PPTK dan PPK.

"Turun lapangan saja saksi Darwin tak pernah dan banyak hal krusial yang tak diketahuinya selaku direktur perusahaan konsultan perencana," katanya.

Sebagai pihak yang turut bertanggungjawab dalam pembangunan rumah sakit menurut Petonengan, mestinya Fransiska Rumagit juga turut ditetapkan sebagai tersangka oleh JPU, karena sejak awal sudah ada masalah dalam perencanaan pembangunan rumah sakit.

"Sumber masalah awalnya datang dari konsultan perencana sesuai keterangan para saksi di persidangan sebelumnya. Misalnya, perhitungam struktur untuk melanjutkan pembangunan rumah sakit tak pernah diberikan kendati sudah dijanjikan oleh Fransiska selaku tim leader konsultan perencana dan dokumen gambar tak pernah dilegalisasi. Jadi, mestinya Fransiska juga bisa dijadikan tersangka dalam kasus ini," ungkapnya.

Menurut Petonengan, para terdakwa yakni Jermina Tampemawa, Vanfa Jocom, dan David Liando  telah bekerja optimal untuk membangun rumah sakit dengan baik dan berkualitas.

"Mereka yang berupaya membangun rumah sakit dengan baik agar tak roboh justru kini jadi tersangka dan terdakwa, tapi yang merencanakan pembangunan dengan tidak benar justru tak dijerat," tukasnya. 

Penulis: Warsteff_Abisada
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help