Hobi yang Terbayar, Kejelian Para User Menjadikan Game Online Sebagai Lahan Duit

Menjadikan game online sebagai ladang pendapatan tambahan atau bahkan penghasilan utama, merupakan buah dari kejelian para user

Hobi yang Terbayar, Kejelian Para User Menjadikan Game Online Sebagai Lahan Duit
ggwp.id
bermain mobile legend 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Menjadikan game online sebagai ladang pendapatan tambahan atau bahkan penghasilan utama, merupakan buah dari kejelian para user dalam melihat peluang bernilai ekonomi.

Mulanya, pengembang game tak mengonsep produk mereka untuk bisa menjadi sebuah 'unit bisnis' bagi para user.

Demikian pendapat yang disampaikan ‎Communication Spesialist PT Gameloft Indonesia, Asteria Agusti Rani.

"Ide awalnya bukan untuk itu (dimanfaatkan user mencari uang-Red), tapi saya kira, itu karena kejelian user melihat peluang," ucapnya, kepada Tribun Jateng, baru-baru ini.

Rani menuturkan, game-game online yang mendatangkan profit biasanya jenis game yang dimainkan di PC komputer, bukan game online yang dimainkan di gadget berbasis Android maupun sistem operasi lain.

Sebab, menurut dia, game yang dimainkan di gadget biasanya didesain untuk 'membunuh waktu' sementara. Misalnya, mengisi waktu senggang di sela istirahat siang pada hari-hari kerja, atau mengisi waktu sembari menunggu kedatangan kereta.

"Game di gadget biasanya memang didesain untuk mengisi waktu luang, yang rentang waktunya tak begitu panjang, pendek-pendek," ujarnya.

‎Berbeda halnya dengan game online yang dimainkan menggunakan PC komputer atau laptop. Biasanya, Rani menyatakan, desain dasar game itu memang membutuhkan rentang waktu yang cukup panjang dan serius untuk memainkannya.

‎"(Dalam hal ini-Red) para gamers bisa mendulang rupiah dari menjual armor, item-item lain dalam game, maupun akun sekalian," ucapnya.

Meski desain awal bukan untuk 'lahan bisnis' bagi user, Rani berujar, pengembang tak menutup mata akan hal itu. Sehingga, di kemudian hari hal itu justru potensial difasilitasi para pengembangg game.

"Kendati begitu, umur tren game‎ biasanya relatif singkat, hanya sekitar 3-4 tahun," terangnya.

Untuk pengembang, dia menambahkan, pendapatan dari membuat game bisa datang dari berbagai mekanisme. Pun demikian, pembuatan game baru tak melulu lantaran inisiatif dari pengembang.

"Selain franchise, bisa juga kami membuat game dengan bekerjasama dengan pihak ketiga ‎untuk memopulerkan karater tertentu, semisal spiderman atau lain-lain," ucapnya.
Selain itu, Rani mengungkapkan, game baru juga bisa diproduksi dengan basis marketing suatu produk.

"Semisal, membuat game untuk jenis dan merek ponsel tertentu, sehingga game itu hanya bisa didapat dan dimainkan pengguna ponsel dengan merek dan jenis tertentu itu," paparnya. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: Try Sutrisno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help