Proyek Kuwil Cemari DAS Tondano, Banyak Ikan Mati di Sungai, DPRD Minut Panggil Kontraktor

Material tanah, buangan proyek Waduk Kuwil, mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano.

Proyek Kuwil Cemari DAS Tondano, Banyak Ikan Mati di Sungai, DPRD Minut Panggil Kontraktor
tribun manado
Tanah, buangan proyek bendungan Kuwil mencemari sungai yang masuk DAS Tondano, Selasa (13/3/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Material tanah, buangan proyek Waduk Kuwil, mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano.

Diperkirakan sudah ribuan kubik tanah hanyut terbawa arus sungai yang bermuara di teluk Manado itu selama tiga bulan terakhir.

Kondisi sungai yang membatasi Desa Kuwil dan Kawangkoan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara memprihatikan. Air sungai berwarna coklat. Di sisi sungai arah sebelah Kawangkoan banyak timbunan tanah. Bahkan, ada limbah tanah yang sudah masuk ke sungai dan ikut terseret sungai.

Di tengah sungai juga terlihat seperti pulau dari gundukan tanah. Ada juga tumpukan bebatuan di badan sungai. Masih di area yang tak begitu jauh, sementara dilakukan pembangunan jembatan Kuwil yang dulu sempat terputus akibat terjangan banjir bandang.

"Mereka buang tanah di sini itu sudah dari tahun lalu," kata Johny, warga Kawangkoan kepada tribunmanado.co.id, Selasa (13/3/2018).

Ia mengatakan, air sungai menjadi berwarna coklat. Sungai lebih dangkal. "Dampaknya di Manado. (Air) ini kan digunakan untuk Perusahaan Daerah Air Minur (PDAM) di Manado. Bagaimana mau bikin bersih, harus berapa lama penyaringan baru jadi jernih," kata dia.

Sebenarnya, menurut warga ini, tanah jangan dibuang di pinggir sungai. "Sungai jadi sempit, banyak ikan yang bisa mati," katanya.

Informasi yang diperoleh, aliran sungai ini tidak akan dijadikan aliran waduk. "Kami berharap agar sungai ini diperbaiki dan dijaga kelestariannya," ujar dia.

Tanah dibuang oleh satu perusahaan pengerja proyek tak tanpa diketahui Pemerintah Desa Kawangkoan. Material ditumpuk begitu saja di tepi sungai hingga membentuk gundukan mencapai puluhan meter.

"Saya tidak tahu lokasinya kalau di situ. Soalnya transaksi kontrak antara pemilik lahan dan perusahaan tidak melalui kami," kata Hukum Tua Kawangkoan, Paulus Kodong kepada tribunmanado.co.id, Selasa (13/3/2018).

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help