Data Ekonomi AS Kurang Menggembirakan, Rupiah Ungguli Dollar

Data ekonomi Amerika Serikat yang kurang menggembirakan, menguntungkan posisi rupiah

Data Ekonomi AS Kurang Menggembirakan, Rupiah Ungguli Dollar
afp
rupiah dan dollar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Data ekonomi Amerika Serikat yang kurang menggembirakan, menguntungkan posisi rupiah di hadapan dollar Amerika Serikat (AS) pada Senin (12/3).

Mengutip Bloomberg, Senin (12/3), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,23% menjadi Rp 13.765 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia juga mencatat rupiah menguat 0,18% ke level Rp 13.768 per dollar AS.

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, penguatan rupiah hari ini mayoritas dipengaruhi sentimen data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat (9/3).

Rata-rata upah kerja per jam di AS per Februari 2018 hanya naik tipis 0,1% month on month (mom). Padahal, Januari 2018, pertumbuhannya mencapai 0,3% mom. Angka tersebut juga meleset dari perkiraan pasr, yaitu tumbuh 0,2%.

Sedangkan, tingkat pengangguran AS bulan Februari masih stagnan di level 4,1%, meleset dari ekspektasi di level 4%. Hanya, data non farm employment changeFebruari 2018 yang dirilis bagus dengan hasil 313.000, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 205.000, dan lebih tinggi dari data bulan sebelumnya sebesar 239.000.

Faisyal mengatakan data AS yang kurang memuaskan itu menyebabkan pelaku pasar yang tadinya mengekspektasikan kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserves bisa sampai empat kali pada tahun ini, menjadi kembali pada perkiraan hanya naik tiga kali.

"Ini berdampak negatif ke dollar AS sehingga membuat rupiah hari ini menguat," paparnya, Senin.

Namun, Faisyal memproyeksikan, rupiah berbalik melemah pada perdagangan Selasa (13/3). Penyebabnya, ada potensi bargain hunting. "Bargain hunting terjadi karena ekonomi domestik belum cukup bagus," kata Faisyal.

Lanjutnya, saat ini yang menahan rupiah tidak tembus ke level Rp 13.800 per dollar AS adalah intervensi dari BI. Pasalnya, dari sisi data ekonomi domestik belum meningkat signifikan.

Selain itu, harga komoditas juga jatuh. "Di tambah, saat ini pelaku pasar sudah mulai khawatir dengan kondisi politik Indonesia jelang Pilkada," imbuh Faisyal.

Di sisi lain, keputusan Presiden As Donald Trump untuk memberikan pelonggaran tarif impor baja dan aluminium kepada beberapa negara membuat dollar AS berpotensi berbalik menguat.

Prediksi Faisyal, besok, rupiah berpotensi melemah di rentang Rp 13.740 per dollar AS hingga Rp 13.785 per dollar AS. *

Tags
dollar AS
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help