Prabowo Harus Lawan Jokowi, Bukan Bersanding

Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi cawapres bagi petahana

Prabowo Harus Lawan Jokowi, Bukan Bersanding
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
Presiden Republik Indonesia terpilih Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan pesaingnya dalam Pilpres lalu, Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014). Dalam pertemuan tersebut Jokowi bersilaturahmi dan mengundang Prabowo untuk menghadiri pelantikan Presiden Seni 20 Oktober mendatang. 

Oleh: Sopyan Iskandar

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi petahana Presiden Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sopyan Iskandar, Ketua DPP LPRI (Lembaga Pengawas Reformasi Indonesia).
Sopyan Iskandar, Ketua DPP LPRI (Lembaga Pengawas Reformasi Indonesia). (Ist/Tribunnews.com)

Menyandingkan Jokowi-Prabowo sebagai capres-cawapres, menurut Bamsoet, akan menghindari perpecahan antara kedua pendukungnya, baik di masyarakat maupun di parlemen.

Hasil survei sejumlah lembaga juga menunjukkan pasangan Jokowi-Prabowo didukung mayoritas responden.

Menurut Indo Barometer, pasangan Jokowi-Prabowo akan mendapat 50,5% suara jika melawan pasangan Jusuf Kalla-Anies Baswedan (3,2% suara). Bahkan menurut Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 66,9% responden menyatakan setuju Jokowi-Prabowo berpasangan.

Tapi tidak bagi penulis. Jika berpasangan dengan Jokowi, “marwah” Prabowo justru akan tergerus. Pamor mantan Komandan Jenderal Kopassus itu akan memudar, sehingga elektabilitasnya pun akan turun. Betapa tidak?

Gerindra selalu menggaungkan Prabowo adalah capres. Bila kini hanya menjadi cawapres, lalu apa kata dunia?

Dukungan kader militan Gerindra akan terberai. Mereka akan kecewa. Idealisme dan aspirasi mereka akan tercabik. Moral kader pun akan luruh. Ujung-ujungnya, pada Pemilu 2019 posisi Gerindra melorot dari posisi tiga besar.

Padahal, prestasi Gerindra pada Pemilu 2014 cukup mentereng, yakni 73 kursi di DPR atau14.760.371 (11,81%) suara. Prabowo adalah ikon Gerindra, bila ikon itu hanya menjadi cawapres, militansi kader pun akan lumer.

Di sisi lain, Prabowo akan dicap sebagai pemburu kekuasaan. Tak ada akar, rotan pun jadi, tak jadi capres, cawapres pun jadi, yang penting kebagian kue kekuasaan meski secuil.

Halaman
123
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help