Survei Jelang Pilpres 2019
Hasil Survei Median: Basis Pemilih Jokowi Berpendidikan Rendah
Sebagian besar basis pemilih Joko Widodo memiliki tingkat pendidikan rendah. Hal ini diketahui dari survei MediaSurvei Nasional
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagian besar basis pemilih Joko Widodo memiliki tingkat pendidikan rendah. Hal ini diketahui dari survei MediaSurvei Nasional (Median) 1-9 Februari 2018.
Dari responden yang mengaku tidak tamat SD, sebanyak 40,9 persen memilih Jokowi. Lalu, dari responden yang mengaku tamatan SD, sebanyak 39 persennya juga menjatuhkan pilihan ke Jokowi. Basis pemilih Jokowi semakin kecil di tingkat pendidikan SMP (37,4 persen), SMA (27 persen), S1 (13,7 persen) dan S2/S3 (10 persen).
"Semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin rendah basis pemilihnya," kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat merilis hasil surveinya di Jakarta, Kamis (22/2/2019).
Baca: Hasil Survei Median: Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Turun, Tokoh Lain Naik
Baca: Hasil Survei Median: Konstituen Golkar, PPP dan Hanura Pilih Prabowo dibanding Jokowi
Menurut Rico, angka yang didapat Jokowi ini berbanding terbalik dengan yang didapat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sebagian besar basis pemilih Prabowo justru dari kalangan berpendidikan tinggi.
Responden yang mengaku lulusan S2/S3 dan memilih Prabowo sebesar 40,0 persen. Lalu, dari responden yang mengaku tamatan S1, sebanyak 34 persennya juga menjatuhkan pilihan ke Prabowo.
Basis pemilih Prabowo semakin kecil di tingkat pendidikan SMA (25,1persen), SMP (22,8 persen), SD (21 persen), dan tidak tamat SD (13,7 persen).
"Prabowo semakin tinggi pendidikannya, semakin banyak pemilihnya," kata Rico.
Baca: Hasil Survei Median: Konstituen Demokrat Pilih Jokowi daripada AHY
Baca: Hasil Survei Median: Elektabilitas Jokowi Turun karena Masalah Ekonomi
Rico menilai, banyak pemilih Jokowi dari kalangan pendidikan rendah karena tertarik dengan kepribadian Jokowi yang merakyat dan sederhana.
Sementara, para pemilih dari kalangan pendidikan tinggi tak hanya menilai dari sosok personal atau citra semata, tapi juga terkait kinerja dan kebijakannya
"Pencitraan tak lagi efektif bagi kalangan yang berpendidikan. Kalau yang dikeluhkan tarif listrik, ya konkrit listrik harus turun, baru suaranya naik," kata Rico.
"Kalau yang dikeluhkan ekonomi sehari-hari, ya itu harus berhasil dulu. Tidak bisa ditutupi dengan bagi-bagi sepeda misalnya," tambahnya.