Irjen Kemendikbud Tinjau SMPN 4 Lolak, Istri Tersangka Minta Maaf hingga Perubahan Sosial

Fehmi Tapada istri Delmart Pokarila, tersangka penganiayaan terhadap Kepala SMP Negeri 4 Lolak Astri Tampi meminta maaf

Irjen Kemendikbud Tinjau SMPN 4 Lolak, Istri Tersangka Minta Maaf hingga Perubahan Sosial
TRIBUNMANADO/Maickel Karundeng
Suasana di Polsek Lolak saat pemeriksaan saksi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Fehmi Tapada istri Delmart Pokarila, tersangka penganiayaan terhadap Kepala SMP Negeri 4 Lolak Astri Tampi meminta maaf atas kekhilafan suaminya.
Femi mengucapkan permintaan maaf itu ketika bersua Tribun Manado di kantor Mapolsek Lolak.
"Saya minta maaf dan meminta ampun atas kesalahan suami saya," ucapnya sambil menangis tersedu-sedu kepada Tribun Manado, Kamis (15/2).
Kata dia, kalau saja saat itu Kepsek mengundangnya bukan suami, mungkin tak terjadi seperti ini. "Saya takut bersama anak-anak tanpa ada suami, apalagi ada masalah ini," ungkapnya.
Ia pun mengaku suaminya bersalah dan meminta ampun dan maaf kepada keluarga termasuk kepada sangadi.
"Sebagai rakyat kami meminta maaf dan ampun atas kesalahan dari suami," tuturnya.
Fehmi mengungkapkan tak mampu membiayai anak-anaknya untuk sekolah lagi. Saat ini, Fehmi tinggal bersama saudara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Polsek Lolak masih melakukan rangkaian pemeriksaan saksi-saksi terhadap kasus penganiyaan Kepala SMP Negeri 4 Lolak, Astri Tampi.
Kapolsek Lolak AKP Suharno mengatakan, setelah selesai penyidikan maka selanjutnya akan dilimpahkan di kejaksaan.
"Kalau semua berkas sudah lengkap di Polsek, maka dilimpahkan di kejaksaan untuk disidangkan," ucapnya.
Ia menambahkan, saat ini masih menyusun semua dokumen mulai dari pengakuan tersangka, sampai dengan keterangan para saksi-saksi.
Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Daryanto, mengunjungi SMP Negeri 4 Lolak dan memberikan penguatan serta motivasi kepada para siswa dan guru di sekolah tersebut, Kamis (15/2).
Daryanto melihat langsung ruang Kepsek Astri Tampi dan bekas meja kaca yang pecah saat terjadi penganiayaan.
Daryanto, memberikan penyampaian kepada guru-guru dan siswa SMP Negeri 4 Lolak untuk tetap belajar dan beraktivitas seperti biasanya.
Aktivitas belajar dan mengajar harus kembali normal. Ia juga meminta kepada dinas pendidikan, agar setiap bulan sekali Kapolsek menjadi inspektur upacara agar mental, disiplin, dan sikap para siswa terbentuk.
Permasalahan sudah selesai dan tersangka sementara jalani proses hukum. Ia berharap kejadian seperti itu tidak terjadi lagi dan yang terakhir. Daryanto juga sempat mengunjungi beberapa kelas yang sedang belajar dan memberikan motivasi bagi para siswa.
Terjadi Perubahan Sosial Terhadap Guru
Penganiayaan Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Lolak, Kabupaten Bolmong, yang dilakukan wali murid menunjukkan adanya perubahan sosial terhadap siswa kepada guru, termasuk kepala sekolah.
"Sehingga saat ini bukan hanya dunia pendidikan saja, melainkan sosial," ujar Wakil Ketua Dewan Pendidikan Sulut Taufik Pasiak, Rabu (14/2/2018).
Pasiak menambahkan, penganiayaan yang dilakukan harus diselesaikan dengan melalui jalur hukum. "Jangankan guru, siapapun yang dianiaya harus diproses hukum," katanya.
Padahal guru sebelumnya merupakan teladan bagi para siswanya, sehingga seharusnya guru menjadi panutan.
Dalam hubungan antara siswa dan guru saat ini sudah berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Hal ini karena para siswa bisa mendapatkan informasi bukan hanya dari guru saja, melainkan juga dari internet maupun sumber lainnya. Sehingga adanya pergeseran cara pandang sosial siswa kepada murid, termasuk wali murid.
Seharusnya wali murid yang menyekolahkan anaknya harus percaya kepada guru untuk mendidiknya, sehingga anaknya yang merupakan siswa di sekolah mendapatkan ilmu yang diberikan kepada guru, termasuk diberi hukuman jika berbuat salah. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendidik.
"Tentu saja hukuman yang diberikan tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM)," katanya.
Guru merupakan pengganti orangtua di rumah. Oleh karena itu harus ada kepercayaan kepada guru dalam mendidik.
Selain itu, seharusnya komite sekolah berperan dalam budaya belajar di sekolah, bukan hanya mengurus infrastrukturnya saja. Termasuk dalam penyelesaian masalah ini, komite sekolah harus dapat menyelesaikannya.

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help