Gara-gara Banyak Konten ini, Unilever Ancam Stop Beriklan di Google dan Facebook

Unilever kemungkinan akan berhenti beriklan pada platform digital seperti Facebook dan Google.

Gara-gara Banyak Konten ini, Unilever Ancam Stop Beriklan di Google dan Facebook
Ist
Ilustrasi Facebook 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Unilever kemungkinan akan berhenti beriklan pada platform digital seperti Facebook dan Google.

Hal ini diungkapkan Direktur Pemasaran Global Unilever Keith Weed.

Alasannya adalah banyaknya konten-konten negatif yang ada pada platform digital tersebut.

Ini diyakini bakal memberikan pengaruh pada persepsi konsumen terhadap produk-produk Unilever pula.

"Unilever tidak akan berinvestasi di platform atau lingkungan yang tidak melindungi anak-anak kita atau yang menciptakan divisi dalam masyarakat, serta mempromosikan kemarahan atau kebencian," ujar Weed seperti dikutip dari Fortune, Selasa (13/2/2018).

Baca: Gubernur Olly Berburu Pejabat Eselon II, Gelar Seleksi Terbuka Untuk 9 Jabatan

Weed pun membandingkan pembersihan iklan digital dan rantai pasok dengan upaya Unilever untuk menemukan bahan-bahan berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk produk-produknya.

Awal pekan ini pun Weed memperoleh penghargaan Global Marketer of the Year dari majalah World Federation of Advertisers and Campaign, yang memilih pemasar yang mendorong cara pemasaran efektif dan berkelanjutan.

Unilever merupakan perusahaan yang menganggarkan belanja iklan terbesar di dunia.

Dalam pernyataannya, Weed menekankan kebutuhan konsumen untuk mempercayai produk-produk Unilever, salah satunya dengan menghilangkan kondisi ketidakpercayaan yang ada di internet.

Baca: Sering Kelelahan, Nagita Slavina Mengakui Dirinya Seperti ini, Duhhh Gak Tega

Pernyataan Weed ini menambah tekanan bagi perusahaan-perusahaan teknologi Silicon Valley untuk meregulasi konten yang dipromosikan dan lingkungan politik saat ini.

Berita ini sudah terbit di Kompas.com dengan judul Unilever Ancam Stop Beriklan di Google dan Facebook, Mengapa?

Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help