Advetorial

Kedai Kopi Shaad - Akademisi Filipina Kupas Sejarah Meletusnya Gunung Awu di Sangihe

Dalam diskusi tersebut Alicia memaparkan materi mengenai sejarah bencana, perpindahan penduduk sangihe akibat letusan gunung berapi Awu 1966.

Kedai Kopi Shaad - Akademisi Filipina Kupas Sejarah Meletusnya Gunung Awu di Sangihe
Istimewa

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -  Kedai kopi Shaad bekerja sama dengan laboratorium Fakultas Ilmu Sosial dan Politik  Universitas Sam Ratulangi, kembali melakukan acara diskusi yang menghadirkan pembicara dari Leiden Univercity Alicia Schrikker dan Ariel Cusi Lopez Philippines University dengan topik diskusi Cultural Politics of Catastrophe in Indonesia. Jum’at  (26 /1/18).

Dalam diskusi tersebut Alicia memaparkan materi mengenai sejarah bencana, perpindahan penduduk sangihe akibat letusan gunung berapi Awu 1966, mengapa Gunung Awu, menurut Alicia kini para sejarawan tertarik meneliti mengenai hal itu.

Alicia memulai ketertarikannya mengenai gunung Awu sangihe karena melihat berbagai arsil di perpustakaan universitasnya, ia juga pernah ke kearsipan nasional dan melihat mengenai arsip keresidenan Manado, ada yang berbahasa belanda dan berbahasa manado dan menemukan bagaimana kepedulian masyarakat manado begitu peduli dengan letusan Awu dengan mengunakan palakat untuk bantuan, ada bantuan pakain dari amurang untuk sangihe.

Aif Darea salah satu peserta diskusi yang bersuku sangihe, memberi sedikit masukan mengenai arus perpindahan paska letusan gunung Awu 1966, ia menyatakan bahwa terjadi arus perpindahan penduduk dari sangihe ke Lolak dan kemudian para pengungsi Gunung awu melanjutkan ke Manado kemudian berakhir di Tuminting Lorong Awu, Pietres  sebagai pemerhati budaya sangihe membernarkan cerita tersebut.

 Sementara itu Ariel menyatakan dia bersama Alicia sampai mendaki Gunung Awu dalam penelitian yang mereka lakukan.

Alicia dan Ariel mengaku senang bisa berdiskusi di kedai kopi shaad karena mendapat banyak masukan dari peserta diskusi yang juga ada beberapa berasal dari suku sangihe serta turunan generasi ke tiga dari para pengungsi bencana Gunung Awu yang meletus pada tahun  1966.

Haryanto selaku CEO Shaad sangat mengapresiasi acara tersebut karena di dukung juga oleh media tribun manado, kompas tv dan RAL FM. Ia menyatakan terima kasih kepada para pemateri dan para peserta diskusi. (*)

Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help