Remaja Bawa Sajam, Psikolog: Orangtua Harus Jalin Komunikasi

BAnyak remaja yang membawa senjata tajam (Sajam) di Sulawesi Utara (Sulut) harus menjadi perhatian tersendiri.

Remaja Bawa Sajam, Psikolog: Orangtua Harus Jalin Komunikasi
IST
Psikolog Elis Ratnawati (kiri) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Herviansyah

TRIBUNMANADO.CO.ID. MANADO- BAnyak remaja yang membawa senjata tajam (Sajam) di Sulawesi Utara (Sulut) harus menjadi perhatian tersendiri. Untuk itu harus dilakukan pembinaan dan pengawasan sejak dini agar prilaku remaja Sulut tidak demikian.

"Memang yang harus dilakukan pembinaan sejak dini agar ketika remaja untuk menentukan jati diri tak seperti itu," ujar Psikolog Elis Ratnawati, Selasa (22/1/2018).

Ratnawati menambahkan prilaku remaja seperti itu, karena saat ini mereka masih mencari 'jati diri'. Namun dalam pencariannya kecenderungannya menyimpang karena terpengaruh dari lingkungan, kurangnya perhatian dari orang tua dan berbagai sumber informasi yang saat ini mudah didapat dari smartphone.

Sehingga ketika terjadi perselisihan dikehidupan nyata untuk memeroleh pengakuan langsung melakukan tindakan menggunakan sajam.

Untuk itu agar tindakan remaja seperti itu harus mendidik anak-anak mulai dari pendidikan agama dan moral. Sehingga anak-anak bisa mengetahui jika melakukan tindakan negatif dalam dirinya sudah ada filter terlebih dahulu.

Selain itu, orang tua harus terus membangun komunikasi sesering mungkin kepada anaknya. Sehingga kasih sayang dari orang tua dapat terus dirasakan oleh anaknya hingga remaja. Hal ini kalau tidak. anak tersebut akan mencari pengakuan di luar rumah. Jika demikian seringkali prilaku negatif menjadi pilihannya.

Untuk kemajuan teknologi penggunaannya juga perlu diatur. Seperti smartphone, harus diatur penggunaannya oleh anak-anak. Jangan sampai dilepas begitu saja, sebab hal tersebut bisa membuat anak-anak mencari informasi yang sebenarnya belum menjadi bahan konsumsi.

Terlebih jika dibiarkan anak-anak tersebut menjadi anti sosial. Padahal dengan berintersksi sosial bisa menimbulkan sikap persahabatan dengan teman-temannya.

Begitu juga di sekolah pendidikan budi pekerti harus terus dilakukan agar mereka bisa mengetahui norma-norma di masyarakat.

Dengan demikian diharapkan prilaku negatif dari remaja bisa dihindari. (erv)

Penulis: Herviansyah
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help