Menteri Siti Bangga Peneliti Indonesia Temukan Burung Spesies Baru

Spesies burung baru yang ditemukan oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah Mysomela irianawidodoae

Menteri Siti Bangga Peneliti Indonesia Temukan Burung Spesies Baru
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAW

Laporan wartawan Tribun Manado Warstef Abisada

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Senyum terus terpancar dari wajah Dr Siti Nurbaya saat mengunjungi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, bersama Wakil Gubernur Sulut Steven Kandow, Kamis (11/01/2017).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI ini mengaku bangga, sebab peneliti Indonesia kembali menemukan spesies burung baru dan diberi nama sesuai nama ibu Negara pada 17 Desember 2017.

‘’Ini sungguh luar biasa, sebab peneliti kita bisa menemukan spesies burung baru dan menamakannya sesuai dengan nama ibu Negara,’’ kata Siti Nurbaya saat melakukan kunjungan kerja ke Anoa Breeding Centre BP2LHK.

Spesies burung baru yang ditemukan oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah Mysomela irianawidodoae. Burung ini endemic dan ditemukan di Pulau Rote/Roti, Nusa Tenggara Timur.

Penamaan burung sesuai nama ibu Negara dilakukan, sebagai penghargaan kepada ibu Negara yang sangat memperhatikan kehidupan burung.

Dedikasi ibu Negara dinilai bisa dijadikan teladan dan contoh untuk menyelamatkan lingkungan di Indonesia.

‘’Prosesnya lama, tak sembarangan burung ini diberi nama ibu Negara. Ada syaratnya, yakni ada kontribusi untuk melestarikan lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati,’’ kata Prof Enny Sudarmonowati, Deputi LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan.

Penemuan burung Mysomela irianawidodoae merupakan penemuan baru. Sejak 1967 hingga sekarang sudah ada 1.113 penemuan yang dilakukan oleh LIPI.

‘’Selama 50 tahun sudah ada 1.113 penemuan baru yang dilakukan peneliti Indonesia. Kita harus bangga, sebab tak lagi orang asing yang menemukan dan menamaka flora maupun fauna di Indonesia,’’ tegas Enny.

Penemuan burung tersebut sanga lama prosesnya. Dimulai dengan pernyataan Forbes pada tahun 1879 bahwa masih banyak jenis Mysomela spp di wilayah Wallacea yang belum ditemukan.

Pada tahun 1996, Johnstone dan Jepson melaporkan dugaan jenis baru Mysomela dari Pulau Rote pada daftar jenis burung.

Kemudian pada tahun 2009, seorang aktivis lingkungan Philip Verbelen melaporkan pengamatannya di Pulau Rote pada jenis burung yang sama, serta mengambil foto dan rekaman suaranya. Sampai akhirnya pada tahun 2017, tim peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI (Dr Dewi Prawiradilaga dan kawan-kawan) serta tim peneliti Nasional University of Singapore (Prof Frank Rheindt) mempublikasik jenis baru Mysomela dari Pulau Rote dalam jurnal ilmiah Treubia volume 44, edisi Desember 2017, halaman 77-100.

Jenis burung endemik Mysomela irianawidodoae ditemukan di Pulau Rote. Rote adalah pulau terbesar di Kepaulauan Rote di Nusa Tenggara Timur. Pulau tersebut berada di wilayah paling Selatan Indonesia (terluar).

Burung ini termasuk dalam family Meliphagidae sebagai burung yang dilindungi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP Nomor 7 Tahun 1999.

Burung Mysomela irianawidodoae berukuran kecil dengan panjang tubuh 11,8 Cm, bobotnya 32,23 gram dan panjang paruh 1,79 Cm. Bentangan sayap 17,2 Cm dan panjang sayap 5,8 Cm. Panjang ekor 3,7 Cm dan tinggi kaki 1,67 Cm. Paruh berwarna hitam, pertengahan punggung sampai tunggir berwarna merah, dan sayap berwarna hitam bercampur abu-abu gelap.

Burung Mysomela irianawidodoae merupakan pemakan nectar, yaitu cairan manis yang terdapat pada bunga. Mereka juga menyukai beberapa serangga kecilm termasuk laba-laba. B

urung ini menghuni habitat di hutan, semak-semak, kebun dan pohon yang berbunga. Terkadang bisa dijumpai memakan nectar bunga pohon jati di sekitar perkampungan. Suara kicaunya merdu saat terbang. Sebagai pemakan nectar menurut Enny, burung tersebut berpotensi menjadi penyerbuk, sehingga perlu dibiarkan hidup di alam.

Selain temuan spesies burung baru, Menteri Siti Nurbaya juga memberikan nama untuk Anoa kedua yang lahir alami pada 8 November 2017 di Anoa Breeding Centre Manado dengan berat 3,5 Kg dan panjang 60 Cm. Sebelumnya pada tahun 2017, bayi Anoa pertama diberi nama ‘Maesa’ oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Kelahiran kedua Anoa ini memberikan harapan baru dalam pelestarian Anoa sebagai hewan langka endemic Sulawesi yang saat ini masuk kategori terancam punah.

Penulis: Warsteff_Abisada
Editor: Rine Araro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help