TribunManado/
Home »

Opini

Tajuk Tamu - Sebuah Refleksi, Problematika Budaya dan Seni?

Beberapa ide yang coba diuraikan di sana memang sangat menarik untuk digaungkan terus menerus.

Tajuk Tamu - Sebuah Refleksi, Problematika Budaya dan Seni?
ist
Ambrosius M. Loho,

Ambrosius M. Loho, M. Fil.  (Pegiat Filsafat Seni & Budaya)

 
Tulisan ini dapat dikatakan refleksi lanjutan atas dua tulisan terdahulu: Pertama, bertema ‘Musik Tradisional’ (Tribun Manado 4 Desember 2017) dan kedua, bertema “Harmoni dalam Musik sebagai Model Hidup” (Tribun Manado 18 desember 2017).

Beberapa ide yang coba diuraikan di sana memang sangat menarik untuk digaungkan terus menerus. Tetapi terlepas dari itu, penulis mencoba menguak sebuah fakta bahwa betapa seni (musik tradisional) seakan hanyalah menjadi ‘pelarian’ untuk menunjukkan kepedulian pada budaya, kendati seni hanyalah bagian kecil dari budaya yang dimaksudkan itu.

Sebagaimana telah penulis uraikan dalam bagian awal tulisan pertama, bahwa sebulan terakhir, kita disuguhkan oleh ‘banyaknya’ event yang sering dianggap sebagai kegiatan pengembangan kebudayaan yang menyatu dalam beberapa event yang dimaksud.

Sebut saja even lokal di Sulawesi Utara seperti: Festival Kolintang yang terbalut dalam konsep Mitra Expo di Taman Kota Tombatu Minahasa Tenggara, dan Festival Klabat 2017 di Minahasa Utara dan Kejuaraan Musik Kolintang BRI Cup I, pada tanggal 13-14 Desember 2017 di Manado Town Square.

Diyakini atau tidak, kegiatan-kegiatan seperti ini adalah kegiatan yang seyogyanya hanyalah bagian kecil sebuah pengembangan budaya (?).

Kendati demikian, tanpa maksud memutlakkan, konsep pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan grand konsep yakni: Memperkenalkan potensi budaya (termasuk seni dan pariwisata), secara khusus potensi yang ada di Minahasa dan tentu saja Sulawesi Utara pada umumnya.

Hiruk pikuk pelaksanaan kegiatan ini, mendapat perhatian terutama dari masyarakat Sulawesi Utara, mengingat jumlah peserta yang ikut kejuaraan terakhir berjumlah 43 grup musik kolintang. Adapun jumlah ini, bisa menjadi peserta terbanyak dalam sekali event lomba musik kolintang di tingkat lokal, bahkan bisa menyaingi jumlah peserta tingkat nasional (?).

Namun toh demikian, tulisan kedua, menyiratkan sebuah fakta bahwa yang demikian bergeliat itu, sesungguhnya menyimpan makna mendalam, dengan kata kuncinya ada pada harmoni. Harmoni dalam seni (musik) bisa menyelaraskan pemikiran kita untuk terus mengusahakan pengembangan budaya dan seni yang dimaksud.

Jadi dapat dikatakan bahwa harmoni dalam seni, yang juga nampak dari event kecil semacam kejuaraan kolintang yang terlaksana itu, bisa dijadikan model dalam kehidupan bersama. (Bdk. Ambrosius Loho, Kolintang & Kebudayaan, 2017).

Halaman
12
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help