TribunManado/

Mopuya Jadi Desa Sadar Kerukunan, 3 Rumah Ibadah Berdampingan

Simbol kerukunan di Mopuya sangat tercermin dari letak rumah ibadah muslim, kristen dan hindu yang berdiri berdampingan

Mopuya Jadi Desa Sadar Kerukunan, 3 Rumah Ibadah Berdampingan
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Desa Mopuya menjadi Desa Sadar Kerukunan tahun 2017 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Desa Mopuya menjadi Desa Sadar Kerukunan tahun 2017. Wakil Bupati Yanny Ronny Tuuk meresmikan predikat desa di Dumoga Utara ini, Kamis (23/11).

Bukan tanpa alasan desa ini akhirnya memegang predikat ini. Simbol kerukunan di Mopuya sangat tercermin dari letak rumah ibadah muslim, kristen dan hindu yang berdiri berdampingan.

Posisi rumah ibadah ini tepat berada di pusat desa, yang berdiri tugu pertanian. Tugu yang melambangkan kemakmuran hasil bumi warga. Kemakmuran yang tercipta dari toleransi tinggi antar umat beragama.

Setiap hari raya keagamaan, warga saling menjaga keamanan, menjaga agar umat lainnya bisa beribadah dengan baik. Hal itu terlihat saat hari raya keagamaan muslim, kristen dan hindu.

Ketika lebaran, pemuda kristen dan hindu berjaga di depan masjid. Begitu pula ketika natal, maupun hari raya nyepi. Bukan hanya menjaga, antar umat bahkan turut merayakan.

Bahkan warga tak saling mengganggu jam ibadah. Jika memang bersamaan, ada yang mempersilakan umat yang memang tak bisa mengundurkan waktu ibadah. Bahkan muncul guyonan, Tuhan bahkan bingung doa siapa yang lebih dulu didengar.

Wabup Yanny berpesan pada masyarakay untuk mempertahankan kerukunan dan terus menghargai antara sesama. Warga agar menjaga predikat desa sadar lingkungan ini.

Yanny berharap kegiatan ini menjadi motivasi dan inspirasi desa-desa lain di Bolmong. Untuk menumbuhkan kesadaran kerukunan umat beragama. "Agar keamanan selalu tercipta di Dumoga bersatu dan Bolaang Mongondow, jelasnya.

Mewakili tiga agama, Ketua Parisada Bolmong I Nyoman Sukra, Ketua MUI Wilayah Dumoga Haji Umar Sujai dan Pendeta GMIBM Mopuya, Barens Waani mengapresiasi predikat ini.

Sebelum pencanangan desa, terlebih dahulu ada dialog antar umat beragama di pendopo Masjid Al Muhajirin. Tokoh agama dan masyarakat hadir dalam kegiatan ini.

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help