Mata Uang Garuda Menguat di Posisi Rp 13.572 per Dollar

Mata uang garuda menguat 0,05% pada penutupan perdagangan Selasa (31/10/2017). Pelaku pasar masih merespon data.

Mata Uang Garuda Menguat di Posisi Rp 13.572 per Dollar
tribunnews
Mata uang rupiah 

Rupiah menguat tipis nantikan data Inflasi Esok

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mata uang garuda menguat 0,05% pada penutupan perdagangan Selasa (31/10/2017). Pelaku pasar masih merespon data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang positif, namun pemilihan bursa gubernur The Fed dan reformasi pajak Amerika Serikat menjadi sentimen utama yang bakal membuat rupiah tertahan.

Mengutip kurs tengah Bank Indonesia hari ini, rupiah naik 0,05% ke Rp 13.572 per dollar. Angka ini naik tipis dari posisi hari sebelumnya di Rp 13.580.

Pun pada Bloomberg rupiah juga mendaki, pasangan USD/IDR pada perdagangan spot bergerak turun 0,14% ke level Rp 13,563 per dollar. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup di Rp 13.582 per dollar.

Rupiah masih terdorong oleh data BKPM yang merilis kenaikan investasi asing di kuartal III-2017 sebesar 13% menjadi Rp 111,7 triliun. Namun, walau pertumbuhan sudah menunjukkan kenaikan dua digit, Ekonom BCA David Sumual melihat masih ada potensi untuk menujukkan pelambatan.

"Pasar asing juga wait and see karena melihat ada potensi permintaan masih lambat," jelas David kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10).

Tambah lagi, perhatian pasar untuk waktu lama bakal tertuju pada agenda AS yang sedang menantikan putusan gubernur pengganti Janet Yellen. Kurang lebihnya, pasar telah mengerucut pada dua nama yakni, John Taylor dan Jerome Powell. Adapula rencana reformasi pajak di AS membuat pelaku pasar makin gencar untuk kembali memarkirkan uangnya di tanah Paman Sam.

Di sisi lain, rilis data indeks manajer pembelian atau purchasing managers index (PMI) China bulan Oktober yang keluar hari ini Selasa (31/10) menunjukkan koreksi. Indeks PMI China untuk kinerja Oktober ini berada di level 51,6. Angka ini terkoreksi dari pencapaian September di level 52,4. Hal ini bisa jadi bakal menyebabkan rupiah melemah.

"Indonesia dan China adalah mitra dagang impor dan ekspor yang sangat kuat, terutama untuk komoditas," jelas David.

Namun ekonom ini meyakini sentimen pelemahan akibat koreksi dari negeri bambu ini bakal bersifat sementara. Dalam waktu dekat, pelaku pasar bakal menantikan rilis inflasi Oktober yang akan disajikan Bank Indonesia besok.

David memprediksi rupiah esok memiliki peluang menguat tipis dan bakal bergerak dalam kisaran Rp 13.550-Rp 13.600 per dollar AS. *

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved