BI Harus Hati-hati saat Bank Sentral AS Makin Agresif

Lembaga monoter Amerika Serikat lagi agresif. Meski begitu, kebijakan Bank Indonesia (BI) mengendorkan suku bunga BI

BI Harus Hati-hati saat Bank Sentral AS Makin Agresif
RADITYA HELABUMI
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (dua dari kanan) didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad (kiri ke kanan) memberikan penjelasan terkait akses informasi keuangan untuk kepentingan perpajakan di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (18/5). Pemerintah sedang menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2017 tentang akses informasi keuangan. Kompas/Raditya Helabumi (RAD) 18-05-2017 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lembaga monoter Amerika Serikat lagi agresif. Meski begitu, kebijakan Bank Indonesia (BI) mengendorkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) sepertinya sudah mulai berdampak. Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Rabu (18/10), lembaga riset internasional, Moodys menghimbau agar BI tetap menahan BI rate di level 4,25%.

BI harus lebih berhati-hati disaat kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) lebih agresif. Dampak lain diturunkannya suku bunga acauan antara lain akan terjadi pelemahan kepada rupiah.

Selain itu para bankir juga cenderung lebih setuju agar suku bunga acuan dijaga di level 4,25%. Suku bunga kredit juga sudah cukup tertekan. Berdasarkan rilis BI, Selasa (31/10) pertumbuhan likuiditas perekonomian meningkat pada September 2017.

Tercatat tumbuh sebesar 10,9% year on year (yoy). Kredit yang disalurkan perbankan pada akhir September 2017 tercatat sebesar Rp 4.569,9 triliun atau tumbuh 9,4% (yoy).

Suku bunga kredit dan suku bunga simpanan berjangka terus menurun. Pada September 2017, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 11,60% atau turun 8 basis poin (bps) dari bulan sebelumnya.

Ini juga terjadi pada suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 1,3,6,12 dan 24 bulan masing-masing tercatat 6,09%, 6,46%, 6,80%, 6,99% dan 6,91% atau turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,30%, 6,54%,6,86%, 7,06% dan 6,94%.

Senada dengan BI, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menurunkan suku bunga penjaminan sebesar 25 bps. Sayang pihak LPS belum bisa memberikan tanggapan mengenai kebijakan tersebut. “Kami belum bisa memberikan penjelasan resmi,” ujar Sekretaris LPS, Samsu Adi Nugroho kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10).

Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto mengatakan tingkat bunga penjaminan mengacu pada suku bunga simpanan, jadi arahnya mengikuti perkembangan suku bunga simpanan.

“Tergantung kebijakan moneter, kalau stance nya masih bisa longgar seperti saat ini maka suku bunga penjaminan masih bisa turun”, ujar Doddy Ariefianto kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10). Doddy juga menambahkan hal itu juga tergantung kepada likuiditas perbankan.

Doddy menjelaskan lebih lanjut likuiditas perbankan mungkin akan sedikit mengetat jelang akhir tahun ini. Itu disebabkan karena bank akan kejar target penyaluran kredit mereka.

“Penurunan suku bunga penjaminan sudah sesuai dengan kondisi perbankan terkini. Suku bunga penjaminan sudah turun 25 bps dan akan efektif pada 3 November 2017,” tutup Doddy. *

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved