Citizen Journalism

Cerita Tentang "Patah Menjadi Air Mata" (2)

Perjalanan melalui hutan Atoga adalah semacam tamasya hijau melalui lorong panjang yang diapit belantara biru rimbun pohon-pohon tua.

Cerita Tentang
Beranda Rumah Mangga
citizen journalism 

Vicky Mokoagow
Guru dan Gitaris Beranda Rumah Mangga

SINGLE kedua yang dijuduli Patah Menjadi Air Mata ini, mengalami proses kelahiran yang kira-kira hampir serupa. Sekalipun keduanya memiliki induk latar cerita yang berbeda.

Sedikit cerita, saat itu jalur utama menuju ke sekolah kami sedang tertimbun longsor parah. Hingga mau tak mau saya harus berbalik arah dan melalui hutan Atoga sebagai rute alternatif untuk bisa sampai ke sekolah --karena memang tidak adalagi rute alternatif selain itu.

Baca: Cerita Tentang Patah Menjadi Air Mata (1)

Nah dari situlah ide dasar untuk lagu kedua ini mulai tumbuh di kepala saya. Jika kau pernah atau beberapa kali melalui hutan Atoga, mungkin kau akan sepakat jika saya bilang bahwa perjalanan melalui hutan Atoga adalah semacam tamasya hijau melalui lorong panjang yang diapit belantara biru rimbun pohon-pohon tua.

Tentu selain cerita tentang halimun yang mulai tudung jauh sebelum senja menyaput mata; sepotong bukit gundul serupa ampas di belakang desa Lanut sisa eksplorasi PT Avocet yang kadang bikin nyeri hati jika ditatap terlalu lama; dan yang paling khas, tentu bisa melalui dua danau cantik yang diapit ladang-ladang tanaman bulanan, juga pepohonan biru: Danau Tondok dan Danau Mooat.

Lagu ini terilhami dari sepotong pohon kering di dekat Danau Tondok, yang di saban hari saya lalui saat bolak-balik Bongkudai-Nuangan. Entah kenapa dalam pandangan saya, pohon ini seperti bernyawa: bernafas, memiliki mata dan bercerita.

Kira-kira kalau dipersonifikasikan (setidaknya menurut isi kepala saya) seperti seorang Petapa Tua yang tabah dalam diam dan kesunyian; kuat dalam pendirian, dan tetap kokoh berdiri di atas kaki sendiri sekalipun dikerubungi segala macam godaan dan cobaan.

Mungkin ini sedikit berlebihan atau bisa jadi sangat-sangat berlebihan, tapi yang tumbuh dalam imaji saya adalah seperti itu, dan sialnya persoalan itu muskil untuk saya kendalikan, hingga akhirnya saya biarkan saja seperti itu.

Ya, setiap orang punya alam imajinasi masing-masing. Sebuah ruang paling surga untuk merdeka bagi setiap manusia. Setamsil dengan pelukis, setiap orang dibekali kanvas dan cat warna-warni di kepalanya, kebebasannya adalah menggambar di atas kanvas putih itu, sebebas-bebas-maunya, semerdeka-merdekanya.

Adapun rentang untuk pengendapan ide lagu ini hingga betul-betul ranum sebelum digubah menjadi sesusun cerita dan nada, memakan waktu kurang lebih setahun.

Sebelumnya pada suatu sore di bulan september 2016, saya sempat mampir di bibir danau Tondok dan memotret pohon ini yang kemudian saya unggah di akun instagram dengan menggunakan caption ada kayu kering di matamu, kemudian patah menjadi air mata” yang entah kebetulan atau disengaja, kemudian menjadi lirik untuk bagian reff di lagu ini.

Awal september 2017, barulah cerita tentang pohon kering di dekat danau Tondok ini betul-betul matang secara ide --tentu setelah dibiarkan mengendap, kemudian didiskusikan dengan seluruh personil Beranda Rumah Mangga.

Dus, setelah melalui proses itu, akhirnya dengan berlapang-lapang lagu ini bisa dituliskan diatas kertas dan kemudian kami rekam dengan perlatan seadanya. (bersambung)

Editor: Edi Sukasah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved