Citizen Journalism

Cerita Tentang "Patah Menjadi Air Mata" (1)

Nuangan kini sudah tersedia jaringan 3G, bukan lagi Nuangan di zaman baheula yang konon sarat tukang sihir dan sebagainya.

Oleh: Vicky Mokoagow
Guru dan Gitaris Beranda Rumah Mangga

SEBELUM saya bercerita sedikit tentang single kedua ini, tentu, salah satu ihwal yang paling patut saya syukuri, adalah ditugaskan sebagai guru di pesisir barat Bolaang Mongondow Timur, tepatnya di kecamatan Nuangan.

Salah satu kecamatan yang bisa dikategorikan terdepan di republik ini –sekalipun ungkapan ini tentu berlebihan karena di Nuangan hari ini telah ada Alfamart dan sudah tersedia jaringan 3G, bukan lagi Nuangan di zaman baheula yang konon sarat tukang sihir dan sebagainya.

Kenapa saya harus menyinggung ini, karena percaya tidak percaya, ide dasar dari kedua single Beranda Rumah Mangga, lahir di tengah perjalanan menuju ke tempat saya mengajar.

Ya, jarak tempuh yang memakan waktu hingga satu jam, entah mengapa selalu membawa saya pada keadaan, yang saya sebut meditasi jalanan”: suatu keadaan di mana imajinasi saya selalu tumbuh subur selama berkendara di tengah belantara.

Dan, memang pekerjaan paling masyuk di atas motor untuk melawan 60 menit di tengah belantara menuju ke sekolah, tidak bisa lain, selain mengawang-ngawang di alam pikiran.

Single pertama kami di Kedai Ini, lahir di tengah perjalanan saya ke sekolah. Saya ingat persis, waktu itu setibanya di sekolah saya tak langsung ke ruang guru untuk menancapkan jempol di absen elektronik.

Saya langsung menuju ke RDG, mengambil gitar dan menuliskan beberapa potong lirik lagu, kemudian menyanyikannya sembari merekamnya langsung di telepon pintar saya. Begitulah upaya saya untuk membidani setiap ide agar menjadi. (bersambung)

Editor: Edi Sukasah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved