TribunManado/

Cerita Wanita asal Bolmong yang Setia Mengobati Suaminya Penderita TBC

"Banyak yang malu berobat karena masih menganggap penyakit ini adalah penyakit sangat menular dan berbahaya,"

Cerita Wanita asal Bolmong yang Setia Mengobati Suaminya Penderita TBC
NET
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Norma (54) Warga Bolmong, tak lupa menyiapkan obat dan mengingat suaminya untuk minum obat tiap harinya. Tak boleh lewat, satu hari pun.

Sudah sekitar dua bulan terakhir, Norma melakukan rutinitas ini setiap harinya. Ia tak mau suaminya yang adalah nelayan, luput sehari tak minum obat.

Sebagai seorang istri, Norma berkewajiban mengingatkan ini pada suaminya yang harus istirahat total selama enam bulan. Penyakit tuberkulosis suaminya memang tergolong parah, sehingga pengobatan harus enam bulan.

"Terlalu lelah, sering masuk angin. Kan tiap hari cari ikan. Setelah periksa katanya kena tuberkulosis, dan tak boleh putus obat. Kalau hanya suami sendiri, dia bakal lupa. Jadi saya harus ingatkan terus," ujar warga Lalow ini, Kamis (12/10/2017).

Norma sadar, penyakit ini berbahaya. Karena ada juga beberapa saudaranya yang kena tuberkulosis, bahkan meninggal. Ia tentu tak mau suaminya bernasib sama. "Obatnya gratis dari puskesmas," jelasnya.

Dinas Kesehatan Bolaang Mongondow bersyukur ada warga yang sadar dan mau berobat ke dokter. Namun rupanya kesadaran masyarakat masih sangat-sangat rendah.

"Banyak yang malu berobat karena masih menganggap penyakit ini adalah penyakit sangat menular dan berbahaya. Padahal kan sekarang sudah banyak obat. Menyembuhkan dan menahan penularan," ujar Sutrisno, Koordinator Program Tuberkulosis, Dinkes Bolmong

Padahal pengobatan penyakit ini tak memungut biaya apapun. Baik pasien umum, maupun BPJS. Bantuan pemerintah pusat dalam penanggulangan penyakit ini masih tersedia.

"Stok obat banyak. Makanya jangan malu berobat. Nanti ke dokter di puskesmas, praktim atau rumah sakit, nanti dokter yang akan mengarahkan untuk pengobatan tuberkulisis ini. Jangan malu berobat," jelasnya.

Data di Dinas Kesehatan Bolmong sejak tahun 2013 - hingga Oktober 2017 ini menunjukkan angka sebarab tuberkulosis yang memprihatinkan. Setiap tahun ada saja warga yang meninggal karena penyakit ini.

Sementara penderitanya mencapai ratusan tiap tahun. Namun sejak tahun 2016, rupanya ada penurunan warga yang mengidap penyakit ini. Dari angka 450an kasus dari 2013 - 2015, pada 2016 hanya 293 kasus. Di akhir 2017 ini pun hanya 199 pasien.

Ada warga yang tercatat melakukan pengobatan secara lengkap, yakni memeriksakan kembali kondisi terakhir pasca berobat. Namun lebih banyak warga yang tak melakukannya, namun sudah sembuh. Sehingga tak tercatat di data Dinas Kesehatan.

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help