Liputan Khusus Hutan Lindung

Mesin Potong Kayu Sering Terdengar, Hutan Lindung di Sulut Terus Dibabat

Para penebang liar,biasa memakai jalan ‑jalan tikus yang banyak ditemui di kampung sekitar hutan lindung.

Mesin Potong Kayu Sering Terdengar, Hutan Lindung di Sulut Terus Dibabat
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW
Perumahan dibangun di kawasan Gunung Tumpa Manado. Dulu areal ini adalah kawasan hijau, foto pada Minggu (25/9/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Suara kicau burung ditambah sesekali suara mirip Yaki (Macaca nigra) terdengar sayup-sayup dari di hutan lindung Gunung Wiau, Bitung.

Namun saat Tribun Manado menyusuri lebih dalam hutan itu, suara kicauan butung dan hilang berganti suara mesin potong kayu. Suara itu asalnya dari tengah hutan, tepatnya deretan pepohonan yang tinggi besar berdaun lebat.

Padahal hutan ini menjadi satu dari sejumlah kawasan hutan lindung di Bitung tempat hidup berbagai hewan endemik.  Untuk diketahui, jika tidak  terjadi penyusutan, Kota Bitung memiliki 13,401 hektare (ha) hutan cagar alam (CA) dan 1.471 ha  hutan lindung (HL). 

Masing-masing HL Gunung Klabat 1.471 ha, HL Gunung Wiau 2.520 ha dan HL Pulau Lembeh lebih dari 2.000 ha, (CA 7.518 Ha dan Taman wisata alam (TWA) 1.250 ha), dan Hutan Wisata Danowudu 21,5 Ha sehingga total hutan CA, TWA dan hutan wisata 13.401 Ha.

Sementara itu, di dalam hutan Gunung Wiau--tak jauh dari bunyi suara mesin potong kayu-- terlihat sejumlah spot area lahan yang gundul. Sejumlah pohon besar roboh, beberapa ada yang sudah terpotong ‑potong.

Pada areal lain dekat jalan, tanah menghitam seperti habis terbakar Kebun jagung berada tak jauh dari situ. Seorang pria mengamati kebun itu dari rumah kayu sederhana.  Hutan lindung itu berada di dataran rendah, hingga nampak seperti loyang jika diamati dari jalan Bitung menuju Minut via Likupang.

Penelusuran Tribun, penebangan pohon dalam jumlah masif terjadi di hutan lindung tersebut. Pada penebang bergerak  'kucing ‑kucingan' dengan Polisi Hutan (Polhut) yang menjaga hutan itu.

Seorang petani yang ditemui Tribun tak jauh dari hutan itu mengungkapkan  soal aksi para perambah hutan. Namun ia meminta namanya tak ditulis di koran.

Menurutnya, para penebang beroperasi di kala tak ada penjagaan. Mereka mengintai dulu. "Kapan saja mereka beraksi, bisa siang, sore atau malam hari. Saat tak ada penjagaan," kata dia.

Halaman
12
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved